APA KABAR BOOM

17 Mar 2011

Sudah lama masyarakat kangen, oh tidak, bukan, melainkan sudah terlalu lama masyarakat tenang, nyaman, tanpa gangguan goncangan hingar-bingar ledakan dan teriakan panik serta cucuran darah kini ternyata boom itu kembali menyapa dengan tutur katanya yang santun: Mohon Memberikan Surat Pengantar atau semacam testimoni begitu. Yang disasar tentu saja perorangan/person/individu dengan maksud agar menimbulkan effek jera begitu, dengan begitu diharapkan yang disasar itu bukan tewas melainkan cacad seumur hidup sehingga masyarakat/komunitas yg disasar menjadi ‘break-down’ dan dengan sendirinya melemahkan mental.

Apa Kabar Boom adalah hentakan ringan namun bisa berdampak serius bagi masyarakat. Dan dengan sendirinya masyarakat sendirilah yang idealnya jangan lemah dan tetap waspada dengan keadaan lingkungannya. Sebagai contoh saja Paket Boom yang gagal dikediaman Ahmad Dhani. Namun kegagalan ini bisa menjadi bahan evaluasi pelaku intelektualnya dan menjadikannya pelajaran agar berikutnya tidak gagal lagi.

Peranan masyarakat selalu menjadi tumpuan, berapalah jumlah aparat bila dibandingkan masyarakat. Aparat tidak bisa banyak berbuat jika masyarakat cuma diam menutup mata & telinga. Informasi selalu dibutuhkan dari masyarakat terutama bila didapatinya ada kegandjilan yang mencurigakan. Masyarakat adalah mata & telinganya aparat. Masyarakat adalah lumbung-lumbung rawan kejahatan & teror. Hanya masyarakat sendirilah yang memiliki mata elang buat mengawasi, cakar tajam untuk merobek informasi, sehingga apapun & siapapun yang aneh, asing, ganjil & mencurigakan ditengah masyarakat keseharian dapat diamati.

Masyarakat & aparat adalah mata dan telinga serta hidung didalam satu kepala. Mata untuk mengawasi, telinga untuk mencari dengar, dan hidung untuk mencium adanya bahan peledak yang sedang dirakit. Sehingga tidak perlu menunggu MELEDAK dulu baru DILACAK tetapi sebelum meledak sudah terlacak.

Memerangi teroris yang paling sulit adalah menumpas ‘pahamnya’ ketimbang menewaskan pelakunya. Ketika aparat berhasil membekuk dan menewaskan pelakunya muncul kata-kata sergapan gencar: Melanggar HAM. Nah, sekarang masalahnya siapa yang terlebih dulu telah melanggar? Menghilangkan nyawa orang lain, melukai orang lain, membuat tidak nyaman orang lain, mengusik orang lain, apakah itu bukan pelanggaran HAM?! Lantas sebatas apakah pemahaman kita tentang HAM….??? Ataukah HAM telah memiliki arti yang lain di bumi Pertiwi ini.

Di Indonesia sekarang ini, warga negara mengancam Presidennya terbebas dari tuduhan, Presiden memaklumatkan keputusannya tidak ada yang mendengarkan (not action talk only). Sedih, memang menyedihkan. Prihatin, memang sangat memprihatinkan. Jangan sampai rakyat/masyarakat mengambil keputusannya sendiri, menggelar parlemen jalanan untuk bertindak sendiri. Kita semua (kecuali komunitas tertentu) masih mencintai Kesatuan & Persatuan atas dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafahkan Pancasila.

Indonesia adalah Indonesia yang dibangun diatas bumi Nusantara dan bukan negeri seribu satu malam yang bersifat dongeng untuk anak yang diceritakan setiap menjelang tidur. Barangkali dari dongeng inilah maka muncul mimpi ‘pembenaran’ diri ingin membangun negeri melalui ledakan, teror & pemaksaan kehendak.

Mari membangun negeri sesuai UUD ‘45 & Pancasila agar tidak menjadi dongeng anak menjelang tidur (panjang).


TAGS Masyarakat & Situasinya


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post