K3 (Keluh Kesah Kami)

28 Aug 2010

Sulit membaca cuaca akhir-akhir ini, dinas yang berwenangpun kadang meleset memprediksikan cuaca yang akan terjadi esok hari, sama dengan sulitnya kita membaca keadaan negeri ini yang masih saja diterpa ketidak-pastian. Aneka ketidak-pastian yang terus-menerus membelenggu rakyat tentang; keadilan, kejujuran, ketegasan, penegakan hukum, sandang, pangan dan papan. Rakyat kita banyak yang kelaparan, kekurangan gizi, tidak bisa bersekolah, tidak ada pekerjaan, harga yang terus melambung, dsb.nya. Dari segi keamanan hal tsb diatas akan sangat mempengaruhi. Hidup rakyat yang tidak tenteram, nyaman, damai.

Sudah lama saya terhenti menulis karena bingung oleh keadaan, apa yang harus saya tulis, apa yang memotivasi saya untuk menulis, tidak ada. Penulis biasanya akrab dengan lingkungan masyarakatnya, dekat dengan apa yang hendak ditulisnya, namun jika keadaan terus berubah-ubah dalam ketidak menentuan lalu apa yang akan ditulis.

Sebelumnya marak tentang terorism, tetapi teroris yang tertangkap hidup dan dihukum begitu lepas kembali menjalankan aksinya (lebih tepay memang ditembak mati). Lalu heboh tentang Pemilu (Presiden/wakil, Dpr/Mpr) namun begitu terpilih kita semua tahu apa & bagaimana perkembangan yang sekarang ini. Setelah itu soal Prita yang dengan gigih akhirnya berkat dukungan masyarakat mendapat kebebasannya. Soal Lapindo, sembako, gas 3 kg, dll.

Apakah negeri ini memang takdirnya diguncang terus, apakah negeri ini memang tidak akan mungkin sejahtera selamanya, masih berapa lama lagi rakyat harus menderita. Negeri ini sebenarnya kaya dengan sumber alam, yang miskin justru SDM-nya, miskin moral, tanggungjawab, nasionalisme. Semua hanya berorientasi pada perut sendiri, kelompoknya sendiri, sementara perut orang lain dan kelompok lain biarlah seperti adanya.

Kepada siapa saja para pemegang pucuk pimpinan, penentu keputusan, bicaralah dengan hati nurani yang dalam, jiwa yang besar, bahwa negara maritim ini butuh kejujuran & ketegasan menentukan hari depan bangsa.

Masalah teroris sudah dibikin habis, masalah pemilihan suara terbanyak menentukan kepemimpinan nasional sudah selesai, masalah Lapindo masih menggantung, masalah harga-harga terlebih lagi, masalah gas 3 kg pelan-pelan coba diatasi, masalah korupsi gembar-gembor sedang diatasi, masalah tawuran antar suku/kampus/kampung masih menggejala dimana-mana.

Lagi-lagi, sekali lagi, masalah negara Jiran. Tampaknya negara yang tak berbudaya itu masih senang mengganggu terus. Budaya kita diakuinya, batas wilayah teritorial kita dilanggarnya, tenaga kerja kita disana diperlakukan layaknya bukan manusia. Suatu sikap yang tak layak mereka perlihatkan kepada kita yang diakuinya sebagai saudara serumpun. Sikap sombong, angkuh dan tinggi hati.

Negara kita adalah negara yang besar, negara maritim, tak ada di dunia ini negara seperti Indonesia. Banyak negara yang iri melihat Indonesia yang memiliki ribuan pulau (dua diantaranya direbut Malaysia), suku, budaya & bahasa. Mari kita jaga dari keruntuhannya, kita waspadai apapun yang datang menyerang lewat narkoba, korupsi, budaya, sosial maupun ekonomi. Terutama gejala disintegerasi bangsa yang tampaknya sangat memprihatinkan.

Mari kita hadapi semua persoalan dengan kepala dingin.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post