KEJAHATAN vs KEBAIKAN

26 Aug 2010

Jahat & Baik = Hitam & Putih

Hitam dan Putih adalah warna yang tegas, jelas dan kontras. Dua warna berseberangan dalam ketegasannya. Dua warna yang akrab dan sering digunakan dalam keseharian. Warna yang bermakna dalam dan memiliki arti tersendiri. Sebagaimana Yin & Yang, Zebra Cross, Seragam tertentu, bahkan sampai kotak catur & bidaknya menggunakan warna ini. Di Bali warna inipun menghiasi kain bermotif kotak-kotak. Tetapi sebuah negara, adakah yang berbendera HITAM & PUTIH? Ini pertanyaannya…

Jika ada negara berbendera Hitam & Putih pastilah bukan Indonesia karena negeri ini benderanya Merah & Putih. Jika ada negara bernuansa Hitam & Putih pastilah kita salah-satunya. Hitam biasanya perlambang kejahatan sedangkan Putih simbol kebaikan. Hitam & Putih selalu berdampingan bahkan kadang saling mendahului untuk saling menguasai. Pertanyaan selanjutnya yang paling menggelitik ialah; Putih sangat mudah dilunturi/terkena lunturan sementara hitam justru paling dominan untuk melunturi karena tidak pernah ada sejarahnya Hitam dilunturi Putih (malah sebaliknya).

Sebenarnya hendak kemanakah pembicaraan ini….? Pembicaraan ini hendak mengerucut ke arah itu tadi, bahwa putih cenderung dikalahkan/terkalahkan oleh hitam dalam keadaan bagaimanapun/apapun juga. Apakah ini takdir?

Sehari-hari kita saksikan dilayar televisi, kita baca dikoran-koran, dimana-mana kejahatan merajalela. Ibu membunuh bayinya sendiri, cucu menewaskan neneknya, perkosaan, perampokan, pembunuhan, perselingkuhan, belum lagi tawuran antar kampung/kelompok/suku, antar generasi muda (kampus/sekolah) yang masing-masing dengan pembenarannya sendiri-sendiri, masih lagi dilengkapi dengan demo-demo dibarengi kerusuhan soal pilkada. Ledakan-ledakan gas berkekuatan 3 kg. Dll.

Indonesia sedang berduka. Gempuran dari dalam (internal) multikompleks sifatnya menyusul gempuran dari luar (eksternal) soal kedaulatan yang tak pernah selesai diganggu, harga diri bangsa dan martabatnya yang dilecehkan. Kesemuanya seolah ada yang mengkoordinir, ada yang mengatur dalam kesatuan koordinasi, musibah datang secara teratur sesuai pemberitaan. Soal terorisme (semua pemberitaan ttg terorisme), soal tabung gas 3 kg (semua soal gas 3 kg), soal kerusuhan/tawuran (semua soal tawuran/kerusuhan), soal pembunuhan berantai, soal perampokan bersenjata, soal… soal… soal…. banyak lagi persoalan di negeri ini yang tak kunjung selesai secara tuntas. Apalagi soal korupsi & narkoba. Dua tindak kejahatan yang berbeda namun berdampak sama bagi rakyat Indonesia. Korupsi membuat rakyat kelaparan, narkoba membuat generasi penerus bangsa melempem/sakit. Negeri ini benar-benar bagaikan telur di ujung tanduk.

Kejahatan memang tidak akan pernah menang melawan kebaikan, tetapi jangan lupa bahwa kebaikan tidak selamanya mampu bertahan dari bujuk rayu & iming-iming kejahatan yang selalu menawarkan manis & indah-indah walau itu sifatnya sementara. Dengan kata lain, tidak semua orang dapat bertahan hidup dalam kemiskinan & kelaparan, jika perut menuntut untuk diisi revolusi sosial akan bicara. Inilah yang tidak kita kehendaki bersama.

Sejarah selalu bicara, bahwa kaum muda/pemuda selalu dapat merubah sejarah keberadaan suatu bangsa, contoh saja sejak jaman pergerakan kemerdekaan (kaum muda yang tampil), runtuhnya Soekarno (kaum muda/mahasiswa/pelajar yang tampil demo di depan Istana), jatuhnya Soeharto (mahasiswa/pelajar/pemuda yang tampil) semuanya selalu terletak ditangan orang-orang muda. Ingat suatu pepatah: Barangsiapa bisa memegang pemuda maka dia akan mampu menguasai dunia.

Setiap generasi selalu melahirkan jamannya, jaman perang kemerdekaan (1945), jaman perang politik (1965), jaman reformasi (1978) dan kini jaman internet….? Barangkali, lain lagi pepatahnya yakni: Barangsiapa menguasasi internet maka dia akan mampu menguasai keadaan suatu bangsa/negara.

Sekarang ini kita hidup dalam jaman internet (IT) sehingga media yang satu ini perlu digunakan sebaik-baiknya (bukan seburuk-buruknya) agar hari depan bangsa ini, generasi ini, dapat tetap survive di mata dunia. Generasi kita adalah generasi yang pintar, jenius, terbukti dari beberapa kali Olympiade Ilmu Pengetahuan generasi Indonesia mampu meraih medali emas, perak & perunggu. Artinya, jika sekian puluh juta lagi generasi muda Indonesia mendapat pendidikan yang layak (jangan mahal-mahal biaya sekolah) maka tidak mustahil Indonesia benar-benar dilihat di mata dunia.

Jangankan buat sekolah, buat makan saja susah, ini kata-kata klasik yang sangat memalukan jika didengar oleh negara lain (apalagi negeri jiran).

Salam perbaikan negeri.-


TAGS Sosial kemasyarakatan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post