RI - MALAYA

25 Aug 2010

Indonesia Negaraku, Bangsaku, Bahasaku. Sudah 65 th negeri kita merdeka. Banyak kekurangan yang harus dibenahi. Bukan saja masalah kemiskinan tetapi pun korupsi yang sudah membudaya. Memberantas korupsi sama saja merubah system. Negara yg kaya akan sumber daya alam (laut, darat) ini sebenarnya rakyatnya tidak perlu sulit mencari makan dan menyekolahkan anak-anaknya jika semuanya dikelola secara baik & benar.

Belum lagi selesai membenahi diri sendiri, sekarang ini kita masih harus berurusan dg negara (kota Malaya) yg disebut Malaysia, sejauh apakah Malaysia dapat mempengaruhi kehidupan bernegara kita, sesungguhnya bukanlah hal yg sulit mengingat negara itu sebenarnya bagian (jaman Bung Karno) dari Ibu Pertiwi. Kita sudah mencanangkan kemerdekaan di tahun 1945, sudah berdaulat sejak bulan Agustus 1945, dunia sudah mengakui itu yang artinya dengan batasan teritorial tertentu sejak Agustus 1945.

Pertanyaannya, lalu sejak kapankah Malaysia itu merdeka? Sebuah kemerdekaan yang dihadiahkan pihak Inggris, tidak melalui tetesan darah - keringat dan airmata, sebuah negara bonekanya Inggris.

Negara yg merdeka karena pemberian/hadiah itu sekarang kebingungan karena tidak memiliki budaya, tidak punya teritorial, tidak punya tenaga kerja sekaligus tentu saja tidak punya rasa malu. Batas perairan sudah diterobos karena mereka tidak tahu dimana wilayah teritorialnya, lalu mengejar dan menangkap 3 orang abdi negara kita (Dinas Perikanan & Kelautan). Bisa diandaikan saya masuk ke halaman orang lalu saya tangkap orang yang ada disitu padahal dia pemilik halaman, aneh bukan?

Yang paling menyakitkan adalah mereka mengklaim seni budaya kita (reog Ponorogo, Tari Pendet, Batik, Lagu Rasa Sayange, dll). Jika sudah melampui batas seperti itu lalu kita masih saja tersenyum dan bertingkah laku santun kepada mereka hanya karena mereka mengatakan: Kita kan Saudara Serumpun. Perlakuan yang pantas kita berikan kepada mereka hanyalah; hentikan hubungan diplomatik. Tidak semudah itu? Baik, tidak semudah itu, tapi apakah lantas kita akan terus berdiam diri sementara bertubi dan beruntun mereka selalu melakukan teror terhadap kita.

Teramat sangat menyakitkan adalah, bukan saja batas wilayah kedaulatan kita yang diterobos seenaknya, batas perairan & darat (kalimantan jika kita tidak hati-hati karena diam-diam disana ada pasukan tak dikenal yang dilatih & terlatih dengan senjata modern) tetapi bahkan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya sudah dilecehkan/dihina habis-habisan dengan menyelewengkan liriknya. Nah, masihkah kita tinggal berdiam terus tanpa berani menampilkan jatidiri bangsa segalak era Bung Karno. Apakah benar kita bangsa yang patut dilecehkan dan dihina? Lalu dimana letak harga diri kita, martabat kita sebagai bangsa yang besar karena berhasil merebut kemerdekaan kita dari tangan penjajah.

Senjata memang bukan satu-satunya cara yg tepat menyelesaikan masalah, begitu juga konflik phisik, tetapi diplomasi yang tegas & keras patut kita lemparkan kepada mereka, sebagai pernyataan bahwa kita bangsa merdeka yang berdaulat dan disegani.

Kita sudah terlalu banyak dipermainkan oleh mereka yang mengaku diri serumpun tapi tingkah-lakunya jauh dari santun. Indonesiaku, Bangsaku, bangkitlah! (Jangan tidur melulu…..?).


TAGS Pertahanan Negeri


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post