Tangis Pertiwi

14 Jan 2010

Ada yang tiada

Ada yang ada

Ada yang tiada namun diada-adakan

Ada yang ada namun ditiadakan

Ada yang antara ada dan tiada namun slalu mengada-ada

Bisakah kita semua dengan rendah hati mengakuinya

Bahwa kebenaran memang harus dikibarkan

Dan ketidak-benaran sebaiknya diturunkan

Agar kemakmuran tidak hanya sekedar panji-panji kosong belaka

Dan kesejahteraan memang dapat kita rasakan bersama …

Tangis Pertiwi masih terus terdengar hingga sekarang ini. Rintihnya yang memilukan menyibakkan tirai hati kita. Tangisnya yang menyesakkan dada menggetarkan bingkai jiwa kita. Itu jika kita semua sadar dan peka. Jika kita semua ‘merasa’ bertanggung-jawab pada negeri tercinta ini. Namun ‘merasa’ saja belumlah cukup sebab masih harus dibarengi tindakan nyata.

Harga-harga agaknya sulit dikontrol lagi. Beras naik, kertas naik, biaya produksi naik (jika ingin bersaing dg luar-negeri) semua naik bak roket menuju angkasa raya. Para menteri pun naik (mobil mewah mutakhir). Dan biasanya akan disusul dengan yang lainnya. Rakyat pun akan naik (pitam)?

Inikah potret buram negeri ini..? Di Senayan pun pada naik (anggota parlemen bersidang) gairah kerjanya (uang sidang) mencecar berbagai pertanyaan pada ‘beliau-beliau’ yang dianggap paling bertanggungjawab terhadap suatu kasus (Bank Century). Diluar Jakarta pun pada naik ‘atmosfirnya’ dengan ekspresinya masing-masing (perang antar suku/kampung/daerah) juga demo yang intinya kupas-tuntas korupsi/penggelapan uang negara hingga bentrokan massal.

Tiada Maaf Bagimu barangkali kalimat ini yang tepat digunakan bagi mereka yang menyukai keributan/bentrokan/kerusuhan/peperangan dengan mengatas-namakan demi rakyat. Negara ini jadi jauh dari falsafah tunggalnya: PANCASILA, yang mengutamakan gotong-royong/kebersatuan/keadilan/perikemanusiaan/musyawarah untuk mufakat.

Akankah nilai-nilai Pancasila bergeser sedikit demi sedikit, nilai-niai luhur yang membuat bangsa ini dikenal & disegani ke seantero penjuru dunia? Akankah kita menjadi bangsa tak beradab karena mengutamakan senjata dan peluru untuk menyelesaikan suatu masalah? Apakah bangsa ini kurang daya intelektualnya sehingga perdebatan tidak dibarengi oleh ‘tepo-seliro’ dan saling menghargai satu dengan yang lain. Perdebatan memang diperlukan untuk mencarikan jalan keluar (solusi) sampai keakar-akarnya.

Tangis Pertiwi memang terdengar lirih namun sangat menyayat dan memilukan.

Mobil mewah para menteri memang boleh-oleh saja tapi harus dibarengi langkah konkriet demi kesejahteraan rakyat yang sudah membelikan mobil mewah itu. Perdebatan di Senayan boleh-boleh saja asalkan kemudian ada solusi yang konkriet bagi rakyat yang sekarang ini hanya menonton lewat layar kaca (bak nonton sinetron asli Indonesia).

Hidup memang tidak cukup hanya uncang-uncang kaki, hanya dipadati demo yang heroik, sementara dibagian Indonesia paling jauh (perbatasan) rawan dengan konflik. Masalah bangsa ini masih sangat majemuk, kompleks dan butuh keseriusan dalam menanganinya (tidak cukup hanya perdebatan).

asap-semeru

Ledakan Ini Jangan Sampai dialami Bangsa ini

Marilah kita sama-sama selesaikan masalah bangsa ini dengan jalan berkarya secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis serta saling menghargai & menghormati satu sama lain. Tidak ada yang lebih indah selain kedamaian & kerukunan. Perbedaan justru dapat dijadikan sebagai saling memperkaya pengetahuan kita. Justru dalam perbedaan kita dapat mengambil hikmah sebanyak-banyaknya. Perbedaan itulah yang menyatukan karena perbedaan adalah Bhineka Tunggal Ika.

Mari kita kembali pada Pancasila & UUD ‘45.


TAGS Human Interest


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post