Gurita (yang) Menggurita

30 Dec 2009

Ramai diperdebatkan, heboh diperbincangkan, tentang telusur akibat dari Bang Syenturi yang justru sedang diinvestigasi oleh Tim Pansus. Entah akibat apa dan dari mana asal muasalnya belum lagi ada hasil justru masalah melebar dan merayap kepada masalah mobil dinas menteri. Pokok persoalan awalnya apa, bagaimana bisa dicarikan penyelesaiannya, jangan malah menjadi semacam tontonan INFOTAINMENT yang sering mengejar sensasional berita dimana rakyat mulai bosan/jenuh/sebal.

Gurita yang meng-Gurita.

Kaki dan tangannya merambah kemana-mana, menggapai-gapai, mencari-cari kesalahan dan kelemahan, mencoba mengail di air keruh dalam pembenaran. Lalu apa yang bisa diharapkan dari bangsa ini bila kata DEMOKRASI mengalami dekadensi moral & etika. Sebagai putera bangsa apakah tidak lebih baik jika bersama-sama kita perbaiki kekeliruan yang ada bukan justru mempertajam kesalahan & kelemahan orang lain yang juga sama hakikatnya dengan kita sebagai MANUSIA yang seharusnya memanusia.

Tidak ada manusia yang super di dunia ini. Manusia super (superhero) hanya ada pada tokoh-tokoh ciptaan Amerika (Badman, Superman, Spiderman, dll) untuk hiburan anak-anak. Dan kita bukanlah anak-anak lagi. Kedewasaan berpikir dan bertindak sangat dibutuhkan bangsa ini jika ingin mengejar ketertinggalan (dari bangsa lainya) dan ingin tetap bisa survive.

Bangsa yang bermasalah, bukan. Tetapi justru bangsa yang dipermasalahan. Karena apapun selalu jadi sorotan, dipermasalahkan, mobil mewah para menteri misalnya. Biarkan saja mereka bermobil mewah sejauh hasil kerjanya memang bisa dirasakan rakyat. Biarkan satu masalah diselesaikan dahulu baru kemudian menyusul masalah lain, jangan masalah yang ada dibuat sedemikian rupa sehingga meng-Gurita kemana-mana. Apakah memang sengaja dilakukan agar carut-marut dan kusut. Mengurai benang kusut pastilah harus satu-persatu dan tidak mungkin sekaligus harus BISA!

Jangan sampai tangan-tangan asing ikut campur dan asyik menggulirkan masalah demi masalah. Kita harus waspada betul bahwa bangsa ini membutuhkan orang-orang bijak dalam menyelesaikan carut-marutnya masalah. Pemerintahan yang syah memang harus kita dukung perduli siapapun Presidennya. Biarkan program kerja 100 hari dinyatakan secara riel dan jangan diganggu dengan menggelontorkan aneka masalah yang justru bisa menggurita. Apakah ada jaminan jika seorang Presiden diganti maka keadaan akan jauh lebih baik (lebih parah mungkin), situasi dan kondisi semakin kondusif?

Marilah kita semua mawas diri (eling lan waspodo).


TAGS Sosial kemasyarakatan puisi kemanusiaan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post