Bukan Mustahil

17 Dec 2009

Sepertinya ontrang-ontrang di republik ini tak jua kunjung ingin selesai. Padahal rakyat sudah ingin hidup tenteram, nyaman, damai dan tenang. Satu belum selesai menyusul yang lainnya. Begitu seterusnya. Lantas terpikir oleh kita; apakah memang bangsa ini tak ingin hidup tenang?

Perlu dipahami betul bahwa demokrasi di Indonesia jelas berbeda dengan demokrasi yang sering digembar-gemborkan di mancanegara. Demokrasi kita adalah demokrasi yang berazaskan Pancasila, bukan demokrasi liberal, demokrasi yang asal cuap-cuap, demokrasi yang akhirnya amburadul ndak keruan. Sejak jaman Majapahit negeri ini tenang, teguh dan damai namun perkasa. Apakah hal semacam itu tidak mungkin lagi tercipta…?

Banyak orang sok pintar meskipun memang pintar. Sedikit sekali orang yang jujur (takut hancur) akibat terpaan badai Tzunami Dekadensi Moral. Rasanya negeri ini justru membutuhkan bukan orang ‘pintar’ melainkan orang yang bermoral luhur. Moral yang tahu etika, rendah hati, siap melayani bukan dilayani, rela berkorban bukan dikorbankan, rela mengabdi tanpa pamrih (Rame Ing Gawe Sepi Ing Pamrih).

Kepentingan golongan jadi nomer satu sementara kepentingan rakyat menjadi nomer kesekian. Semua mengatas-namakan rakyat, demi rakyat, bersilat-lidah demi rakyat namun pada kenyataannya semua belum terealisir. Sekolah masih susah, makan masih susah, cari kerjaan apalagi, jadi PKL digelandang, jadi PSK dikejar-kejar, jadi bandit pasti tertangkap. Lalu mau jadi apa….?

Para politisi menjadi selebriti karena selalu muncul di TV, diwawancarai, adu argumentasi, saling andalkan konsep, saling membenarkan diri, dsb.nya. Rakyat akhirnya hanya menjadi penonton. Tapi hati-hati sebab penontonpun bisa marah jika kecewa apalagi merasa sudah membayar (lewat pajak-pajak) tetapi pertunjukkan cuma isapan jempol belaka.

Apakah ini yang disebut pendidikan politik bagi rakyat? Tapi nyatanya kerusuhan dimana-mana, tawuran sering terjadi, bahkan calon-calon intelektualpun saling bergaya macam “Rambo” (kehabisan amunisi). Apakah tidak lebih baik jika saling mengisi kekurangan bukan mengorek kekurangan orang lain? Apakah mustahil saling menyamakan persepsi dan visi membangun negeri?!

Demokrasi kita bukan demokrasi kebablasan!

Maaf jika ada yang tersinggung meski maksudnya tak ingin menyinggung.


TAGS Human Interest


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post