Upaya Disskreditkan TNI

11 Dec 2009

Pagi tadi, Jumat 11 Desember 2009 pk.08.30 wib, ada program yang menyiarkan tentang film Balibo produksi Australia. Beberapa tokoh pelaku sejarah yang terlibat langsung operasi ’seroja’ diwawancarai. Lalu ada pikiran tersirat dalam hati:

Sebuah film dibuat untuk mengekspresikan gejolak rasa & karsa sesuai kreatifitas pembuatnya sebagai bahan komoditas atau lain sebagainya. BALIBO tidak terlepas dari itu tetapi ada indikasi lain, bukan hanya product untuk dijual tetapi penuh muatan nuansa politiknya.

Dalam pertempuran hanya ada satu dari dua pilihan dibunuh atau membunuh. Seorang wartawan perang harus berani tanggung resiko kehilangan nyawanya diterjang peluru yang tak bermata. Sebagaimana wartawan olah-raga sepak bola yang menanggung resiko apabila terkena lemparan botol atau benda keras lainnya jika terjadi kerusuhan di stadion. Konsekwensi logis ini bukan hal yang aneh atau menjadi luar-biasa. Tidak. Justru menjadi lumrah saja.

Negeri kita memang sedang dikacau pihak-pihak tertentu (entah siapa & dari mana) agar kenyamanan, keamanan, ketentraman terganggu sehingga stabilitas hidup kemasyarakatan menjadi labil. Dalam keadaan situasi masyarakat yang labil inilah diam-diam akan tampil ’sosok’ yang pasti memanfaatkan situasi agar negara ini terlebih dulu hancur dari dalam (oleh orang dalam?).

Film BALIBO bila diputar ditengah masyarakat biarlah masyarakat yang akan menilainya sendiri. Dampaknya ada dua; membenci Australia atau TNI. Anehnya, mengapa jutru film tsb baru masuk justru disaat-saat negeri ini sedang terkacaukan oleh berbagai kasus, al: Bom & teroris, Cicak & Buaya, Century, Pemilu & Pemenangnya, dll. Mengapa setelah 24 tahun kemudian film tsb diluncurkan di Indonesia?

Sebuah negara memang yang harus menjadi perhatian nomer satu adalah pertahanannya, angkatan bersenjatanya, mampu & ampuh tidaknya. Australia termasuk yang ‘takut’ pada tentara Indonesia apalagi semasa Benny Murdani Panglima ABRI-nya. Setelah Malaysia ‘menjajal’ kemampuan TNI kita lewat penyusupan teritorial lautnya, kini Australia lewat provokasi filmnya. Tentu dengan harapan agar rakyat Indonesia antipati pada TNI dan menolak pembangunan pertahanannya dengan alasan Anti Militerisme!

Gonjang-ganjing di negeri ini terus saja berlangsung, tetapi kitalah yang harus mampu menghentikannya dengan cara berpikir, bersikap & berbuat dewasa. Karena negeri ini terletak ditangan kita bukan tangan pihak asing yang masuk lewat LSM - dsb.nya. Kitalah yang bertanggugjawab. Tiupan-tiupan angin yang mendisskreditkan seseorang (pejabat, tokoh, dll) hendaknya bisa kita kaji betul dan evaluasi. Misalnya saja; Apakah tidak ada maaf bagi yang bersalah. Apakah kita sudah bersih dari setiap kesalahan. Tidak ada manusia sempurna selain Tuhan. Jangan sampai negeri ini sudah jatuh ketimpa tangga, atau keluar dari kandang macan masuk kemulut singa.

Demo Anti Korupsi kemarin (09 Dec. ‘09) relatif berjalan mulus dan lancar. Tetapi itu di Jakarta. Perhatikanlah diluar Jakarta. Demo yang cenderung anarkhis dan makar mulai diperlihatkan. Lalu siapa yang bertanggungjawab. Polisikah? Berapa jumlah personiel Polri bila dibandingkan dengan rakyat?! Kita semua memang benci korupsi dan sudah barang tentu Anti Korupsi. Berilah kesempatan pada yang berwenang & kompeten untuk menelisiknya. Lalu tak perlulah kita mencaci-maki sana-sini atau adu argumen bersilat lidah. Tampilkan bahwa kita bangsa yang dewasa dan smart! (bukan Taman Kanak-2).

Film “Balibo” memperlihatkan bagaimana cara orang Australia memandang Indonesia. Film adalah kejujuran. Bila fakta originilitas tidak digarap sebagaimana adanya maka demikianlah memang cara mereka melihat Indonesia. Berbeda dengan film produksi Hollywood yang dengan detail mengugkap kebenaran secara jujur dan apa adanya (netral).


TAGS Pertahanan. Kemananan. Aman. Nyaman.


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post