Kekuatan, Kekuasaan & Keadilan

10 Nov 2009

Hari-hari begitu sarat keprihatinan

suara-suara mendesing bak pelor dimedan pertempuran

ta’ tahu lagi mana kawan dan siapa lawan

s’mua mengacungkan panji-panjinya

s’mua mengibarkan benderanya

s’mua mengobarkan semangatnya.

Tapi panji yang mana

kibaran bendera siapa

dan s’mangat untuk apa?

Sekarang ini kekuatan nyaris ta’ terbendung

sementara kekuasaan sudah dikuasai

dan keadilan tinggallah batu nisan.

Perobahan mulai digelontorkan

napas-napas mulai berkelojotan

nurani terkaparkan ditepian jalan ketak-berdayaan.

Adakah hari baru kan tergantikan

dengan sinar mentari bercahya kemilauan

penuh kehangatan dan kedamaian.

Jika kekuatan t’lah melindas kekuasaan

dan kekuasaan membunuh keadilan

maka ta’ da kata lain kecuali: Selamat tinggal eNKaeRI.

Negeri ini sudah diobok-obok

oleh siapapun

yang datang silih berganti.

Lalu bilakah kita mampu hidup layak

tanpa carut-marut yang terus dikoyak-moyak

kuku tajam serigala lapar berkepala manusia?

Kekuatan adalah uang

kekuasaan adalah pemerintahan

keadilan adalah rakyat.

Masihkah kita inginkan uang ‘tuk kuasai kekuasaan

tegakah kita gunakan kekuasaan ‘tuk melindas keadilan

rakyat pun memiliki batas kesabaran.

Batas kesabaran rakyat pernah pecah pada 10 Nopember 1945

sasaran jelas serdadu bule yang menginjakkan kaki dibumi ini

tetapi sekarang siapa yang harus kita acungkan bambu runcing?

  • Hati ini terasa disayat sembilu
  • Sembilu itu terasa begitu menyakitkan
  • Sakitnya hingga ke sumsum tulang.










TAGS puisi kemanusiaan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post