Gempur, Tawur, Tempur

10 Sep 2009

Masih juga bangsa (generasi muda) kita belum mampu dewasa. Padahal kedewasaan sikap, mental & kepribadian serta berpikir sangat dibutuhkan dalam era globalisasi seperti sekarang ini. Kita mesti sadar penuh bahwa negara-negara disekeliling kita (Asean) dan juga negara besar didunia begitu sangat memperhatikan Indonesia (kapan lengahnya) sebagai sebuah negara yang spesifik dengan puluhan ribu pulau dan aneka kebudayaannya. Sikap mental kita, cara berpikir serta tindakan yang mencerminkan sebuah kepribadian kita sebagai bangsa Indonesia dipertanyakan.

Mengapa bangsa kita menjadi brutal dan pemarah? Hal ini bisa kita lihat melalui liputan media elektronik, dari tawuran antar mahasiswa, antar kampus, antar daerah bahkan pembunuhan sekaligus perkosaan selalu mewarnai pemberitaan. Apakah kita bangga dengan semua itu? Apakah kita lantas merasa gagah dan superhero dengan semua itu? Lalu kemenangan macam apa yang diharapkan….?!

Saling gempur dengan sengitnya, kelewang dan bahkan bom molotov digunakan, tawuran terjadi seakan kita sedang dalam suasana tempur. Indikasi ini tentu tak lepas dari kelelahan masyarakat menghadapi hari-harinya yang apatis karena sulitnya mencari uang, mencari pekerjaan, perut lapar dan harga yang semakin mahal.

Bangsa ini menjadi beringas, gampang tersinggung, nalar diberangus oleh emosi. Apapun yang dilakukan menjadi pembenaran karena luapan perasaan. Bisa kita bayangkan bagaimana mungkin calon-calon intelektual kita menjadi begitu ’sangar’nya padahal lawannya masih saudara sekampus. Begitupun antar warga yang berbeda daerah saling gempur. Sangat menyedihkan bila bangsa ini menjadi begitu tidak terkontrol. Dunia luar pasti senang menyaksikan Indonesia saling cabik dan cakar karena dengan begitu barangkali mereka bisa masuk dan menguasai negeri ini dengan dalih apapun.

Memprihatinkan, menyedihkan sekaligus mengkhawatirkan. Belum lagi tentang penyimpangan ajaran agama tertentu yang membolehkan jemaatnya memukul (kekerasan) dan lawan jenisnya telanjang? Tendensi ini mengisyaratkan pada kita bahwa manusia sudah melupakan kodratnya, manusia sudah men-’tuhan’-kan dirinya. Dan ini merupakan tanda-tanda jaman bahwa “kiamat” sudah dekat…?

Nyawa manusia menjadi tak berharga. Bukan cuma karena ledakan bom tetapi juga kasus seorang taruna yang tewas (setelah sebelumnya pernah terjadi ditempat lain) padahal baru saja akan menuntut ilmu dengan harapan kelak dapat berguna bagi bangsa, negara & keluarga? Bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai nilai-nilai luhur kemanusiaan, nilai luhur kehidupan, jika nilai ini sudah dilanggar meski apapun alasannya lalu akan jadi apa bangsa ini?

Entahlah apakah mungkin bangsa ini sudah lama tidak tersalurkan tingkat keberaniannya (sejak 1945) untuk maju ke medan tempur? Jika demikian kumpulkan saja mereka lalu kirim ke garis perbatasan (Indonesia-Malaysia) yang setiap saat bisa saja terjadi pertempuran (ringan-berat). Padahal sifat dan sikap superhero tidak hanya harus disalurkan lewat bentrok phisik/tawuran tetapi justru jauh lebih luhur dan bernilai bila disalurkan melalui kecakapan penyaluran bakat & intelektual (seperti halnya para peraih medali kejuaraan Olympiade Ilmu Pengetahuan) tingkat dunia.

Mari saudara-saudaraku, sebangsa & setanah-air, kita harus belajar dewasa dalam berpikir, bertindak & bersikap agar terciptalah kepribadian kita sebagai bangsa Indonesia yang disegani seantero dunia.

Bangkitlah bangsaku!


TAGS Sosial kemasyarakatan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post