Tangis Pertiwi

14 Januari 2010

Ada yang tiada

Ada yang ada

Ada yang tiada namun diada-adakan

Ada yang ada namun ditiadakan

Ada yang antara ada dan tiada namun slalu mengada-ada

Bisakah kita semua dengan rendah hati mengakuinya

Bahwa kebenaran memang harus dikibarkan

Dan ketidak-benaran sebaiknya diturunkan

Agar kemakmuran tidak hanya sekedar panji-panji kosong belaka

Dan kesejahteraan memang dapat kita rasakan bersama …

Tangis Pertiwi masih terus terdengar hingga sekarang ini. Rintihnya yang memilukan menyibakkan tirai hati kita. Tangisnya yang menyesakkan dada menggetarkan bingkai jiwa kita. Itu jika kita semua sadar dan peka. Jika kita semua ‘merasa’ bertanggung-jawab pada negeri tercinta ini. Namun ‘merasa’ saja belumlah cukup sebab masih harus dibarengi tindakan nyata.

Harga-harga agaknya sulit dikontrol lagi. Beras naik, kertas naik, biaya produksi naik (jika ingin bersaing dg luar-negeri) semua naik bak roket menuju angkasa raya. Para menteri pun naik (mobil mewah mutakhir). Dan biasanya akan disusul dengan yang lainnya. Rakyat pun akan naik (pitam)?

Inikah potret buram negeri ini..? Di Senayan pun pada naik (anggota parlemen bersidang) gairah kerjanya (uang sidang) mencecar berbagai pertanyaan pada ‘beliau-beliau’ yang dianggap paling bertanggungjawab terhadap suatu kasus (Bank Century). Diluar Jakarta pun pada naik ‘atmosfirnya’ dengan ekspresinya masing-masing (perang antar suku/kampung/daerah) juga demo yang intinya kupas-tuntas korupsi/penggelapan uang negara hingga bentrokan massal.

Tiada Maaf Bagimu barangkali kalimat ini yang tepat digunakan bagi mereka yang menyukai keributan/bentrokan/kerusuhan/peperangan dengan mengatas-namakan demi rakyat. Negara ini jadi jauh dari falsafah tunggalnya: PANCASILA, yang mengutamakan gotong-royong/kebersatuan/keadilan/perikemanusiaan/musyawarah untuk mufakat.

Akankah nilai-nilai Pancasila bergeser sedikit demi sedikit, nilai-niai luhur yang membuat bangsa ini dikenal & disegani ke seantero penjuru dunia? Akankah kita menjadi bangsa tak beradab karena mengutamakan senjata dan peluru untuk menyelesaikan suatu masalah? Apakah bangsa ini kurang daya intelektualnya sehingga perdebatan tidak dibarengi oleh ‘tepo-seliro’ dan saling menghargai satu dengan yang lain. Perdebatan memang diperlukan untuk mencarikan jalan keluar (solusi) sampai keakar-akarnya.

Tangis Pertiwi memang terdengar lirih namun sangat menyayat dan memilukan.

Mobil mewah para menteri memang boleh-oleh saja tapi harus dibarengi langkah konkriet demi kesejahteraan rakyat yang sudah membelikan mobil mewah itu. Perdebatan di Senayan boleh-boleh saja asalkan kemudian ada solusi yang konkriet bagi rakyat yang sekarang ini hanya menonton lewat layar kaca (bak nonton sinetron asli Indonesia).

Hidup memang tidak cukup hanya uncang-uncang kaki, hanya dipadati demo yang heroik, sementara dibagian Indonesia paling jauh (perbatasan) rawan dengan konflik. Masalah bangsa ini masih sangat majemuk, kompleks dan butuh keseriusan dalam menanganinya (tidak cukup hanya perdebatan).

asap-semeru

Ledakan Ini Jangan Sampai dialami Bangsa ini

Marilah kita sama-sama selesaikan masalah bangsa ini dengan jalan berkarya secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis serta saling menghargai & menghormati satu sama lain. Tidak ada yang lebih indah selain kedamaian & kerukunan. Perbedaan justru dapat dijadikan sebagai saling memperkaya pengetahuan kita. Justru dalam perbedaan kita dapat mengambil hikmah sebanyak-banyaknya. Perbedaan itulah yang menyatukan karena perbedaan adalah Bhineka Tunggal Ika.

Mari kita kembali pada Pancasila & UUD ‘45.


Mahkota Bagi Raja

5 Januari 2010

Hari ini, Rabu 30 Desember 2009, pk.18.45 seorang tokoh nasionalis sejati telah kembali kerumah-Nya yang abadi. Guru bangsa telah dipanggil-Nya. Sejatinya seorang manusia yang penuh kesahajaan, sederhana, lugu dan lugas. Apa yang keluar dari mulutnya adalah kesejatian bangsa. Identitas diri bangsa ini terdapat pada dirinya. Memang demikianlah seharusnya bangsa ini. Rendah hati, teguh, jauh dari munafik, membela yang kecil dan tersingkir, mengakui keberadaan orang lain dan menghormatinya. Sosok Pancasilais sejati.

Gus Dur telah tiada, tetapi aroma pengaruhnya masih dimana-mana, beliau masih hidup diantara yang hidup. Beliau hanya berpindah alam. Jiwanya masih memberi semangat. Nuraninya masih bicara. Agar bangsa ini tumbuh kembang dalam kesahajaan, dalam persatuan dan kesatuan yang hakiki (bukan manipulasi), bangsa yang membenci korupsi, bangsa yang harus hidup bersanding dan berdampingan apapun suku - adat istiadat - budaya - agama dan kepercayaannya.

Seorang proklamator kemanusiaan, kedamaian & perdamaian, persamaan hak dan kwajiban. Tidaklah mudah mencarikan pengganti sosoknya di republik ini. Terlebih pada saat situasi negeri tengah carut marut oleh dekadensi moral dan etika. Sosoknya sebetulnya masih sangat dibutuhkan di negeri tercinta ini. Tetapi bila Tuhan berkehendak lain wallahualam kita harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Pastinya Tuhan mempunyai rencana dan kehendak lain pada bangsa ini agar dapat mengambil hikmah atas apa yang telah dan pernah beliau lakukan sepanjang hayatnya.

Gus Dur, adalah raja bagi negeri ini, yang berani mengatakan ‘tidak’ ditengah arus yang berkecamuk, berani mengatakan ‘ya’ ditengah gelombang yang menghantamnya penuh ancaman. Raja yang welas-asih, mampu mengabulkan permintaan hambanya, siap mengorbankan dirinya bagi orang lain/bangsanya tanpa meminta imbalan apapun. Raja sederhana dan bersahaja. Raja yang menyediakan istana bagi rakyatnya. Raja yang menaklukkan lawannya bukan dengan senjata tetapi dengan cinta dan kasih-sayang, dengan perhatian dan pengertian lengkap dengan keutuhan pribadinya yang agung. Raja yang selalu mengajaknya rakyatnya untuk bersikap rasional.

Tahta bagi rakyat ada pada diri Gus Dur.

Dan sekarang ramai diperbincangkan soal gelar pahlawan bagi sosok Gus Dur yang nota bene kiprahnya telah dirasakan bersama seluruh rakyat dari semua golongan di bumi Nusantara ini. Barangkali Gus Dur sendiri di alam-sana sama sekali tidak menghendaki ‘gelar’ itu karena bagi beliau yang utama adalah tindakan bukan obrolan warung kopi. Apalah artinya ‘gelar’ bila tidak terbukti. Apakah hanya untuk gagah-gagahan saja. Tidak. Gus Dur tidak menghendaki hal semacam itu. Diberikan atau tidak ‘gelar’ itu bukan masalah yang terpenting adalah sudah mencoba melakukan yang terbaik bagi bangsa ini, untuk negeri tercinta ini, untuk kebersamaan dan kesatuan NKRI.

Wajah & jiwa Indonesia sesungguhnya ada pada diri Gus Dur.

Mereka yang ingin meng-Indonesia hendaknya seturut dengan apa yang pernah beliau lakukan bagi negeri ini. Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika. Gus Dur adalah Bhineka Tunggal Ika. Sosok pemimpin tanpa pamrih, sosok yang tidak takut miskin hanya karena idealismenya. Teguh, tekun, kokoh dan kuat. Seandainya saja para petinggi kita (Indonesia) mampu bersikap dan bertingkah-laku serta berpikiran seperti beliau maka rakyat akan hidup rukun, makmur dan sejahtera. Wawasannya menjangkau jauh kedepan bahkan tak bisa terdeteksi oleh siapapun.

Bangsa ini kehilangan bapanya, gurunya, panutannya. Namun jangan sampai kehilangan identitasnya. Sebab identitas bangsa ini sesungguhnya ada pada diri beliau. Lihatlah Gus Dur bila ingin melihat Indonesia dan lihatlah Indonesia jika ingin melihat siapa Gus Dur. Beliau paling menderita ketika anak bangsa saling berbenturan, beliau berduka manakala dissintegrasi menggejala, beliau menunduk berdoa saat dirinya dikhianati…

Kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan dan esok adalah impian. Bangkitlah bangsaku kendati Gus Dur telah tiada. Bangkitlah bersama cita-citanya, aspirasinya, cinta dan kasihnya terhadap bangsa ini.

Beliau telah pergi ketika bangsa ini justru sedang membutuhkannya.


Gurita (yang) Menggurita

30 Desember 2009

Ramai diperdebatkan, heboh diperbincangkan, tentang telusur akibat dari Bang Syenturi yang justru sedang diinvestigasi oleh Tim Pansus. Entah akibat apa dan dari mana asal muasalnya belum lagi ada hasil justru masalah melebar dan merayap kepada masalah mobil dinas menteri. Pokok persoalan awalnya apa, bagaimana bisa dicarikan penyelesaiannya, jangan malah menjadi semacam tontonan INFOTAINMENT yang sering mengejar sensasional berita dimana rakyat mulai bosan/jenuh/sebal.

Gurita yang meng-Gurita.

Kaki dan tangannya merambah kemana-mana, menggapai-gapai, mencari-cari kesalahan dan kelemahan, mencoba mengail di air keruh dalam pembenaran. Lalu apa yang bisa diharapkan dari bangsa ini bila kata DEMOKRASI mengalami dekadensi moral & etika. Sebagai putera bangsa apakah tidak lebih baik jika bersama-sama kita perbaiki kekeliruan yang ada bukan justru mempertajam kesalahan & kelemahan orang lain yang juga sama hakikatnya dengan kita sebagai MANUSIA yang seharusnya memanusia.

Tidak ada manusia yang super di dunia ini. Manusia super (superhero) hanya ada pada tokoh-tokoh ciptaan Amerika (Badman, Superman, Spiderman, dll) untuk hiburan anak-anak. Dan kita bukanlah anak-anak lagi. Kedewasaan berpikir dan bertindak sangat dibutuhkan bangsa ini jika ingin mengejar ketertinggalan (dari bangsa lainya) dan ingin tetap bisa survive.

Bangsa yang bermasalah, bukan. Tetapi justru bangsa yang dipermasalahan. Karena apapun selalu jadi sorotan, dipermasalahkan, mobil mewah para menteri misalnya. Biarkan saja mereka bermobil mewah sejauh hasil kerjanya memang bisa dirasakan rakyat. Biarkan satu masalah diselesaikan dahulu baru kemudian menyusul masalah lain, jangan masalah yang ada dibuat sedemikian rupa sehingga meng-Gurita kemana-mana. Apakah memang sengaja dilakukan agar carut-marut dan kusut. Mengurai benang kusut pastilah harus satu-persatu dan tidak mungkin sekaligus harus BISA!

Jangan sampai tangan-tangan asing ikut campur dan asyik menggulirkan masalah demi masalah. Kita harus waspada betul bahwa bangsa ini membutuhkan orang-orang bijak dalam menyelesaikan carut-marutnya masalah. Pemerintahan yang syah memang harus kita dukung perduli siapapun Presidennya. Biarkan program kerja 100 hari dinyatakan secara riel dan jangan diganggu dengan menggelontorkan aneka masalah yang justru bisa menggurita. Apakah ada jaminan jika seorang Presiden diganti maka keadaan akan jauh lebih baik (lebih parah mungkin), situasi dan kondisi semakin kondusif?

Marilah kita semua mawas diri (eling lan waspodo).


Bukan Mustahil

17 Desember 2009

Sepertinya ontrang-ontrang di republik ini tak jua kunjung ingin selesai. Padahal rakyat sudah ingin hidup tenteram, nyaman, damai dan tenang. Satu belum selesai menyusul yang lainnya. Begitu seterusnya. Lantas terpikir oleh kita; apakah memang bangsa ini tak ingin hidup tenang?

Perlu dipahami betul bahwa demokrasi di Indonesia jelas berbeda dengan demokrasi yang sering digembar-gemborkan di mancanegara. Demokrasi kita adalah demokrasi yang berazaskan Pancasila, bukan demokrasi liberal, demokrasi yang asal cuap-cuap, demokrasi yang akhirnya amburadul ndak keruan. Sejak jaman Majapahit negeri ini tenang, teguh dan damai namun perkasa. Apakah hal semacam itu tidak mungkin lagi tercipta…?

Banyak orang sok pintar meskipun memang pintar. Sedikit sekali orang yang jujur (takut hancur) akibat terpaan badai Tzunami Dekadensi Moral. Rasanya negeri ini justru membutuhkan bukan orang  ‘pintar’ melainkan orang yang bermoral luhur. Moral yang tahu etika, rendah hati, siap melayani bukan dilayani, rela berkorban bukan dikorbankan, rela mengabdi tanpa pamrih (Rame Ing Gawe Sepi Ing Pamrih).

Kepentingan golongan jadi nomer satu sementara kepentingan rakyat menjadi nomer kesekian. Semua mengatas-namakan rakyat, demi rakyat, bersilat-lidah demi rakyat namun pada kenyataannya semua belum terealisir. Sekolah masih susah, makan masih susah, cari kerjaan apalagi, jadi PKL digelandang, jadi PSK dikejar-kejar, jadi bandit pasti tertangkap. Lalu mau jadi apa….?

Para politisi menjadi selebriti karena selalu muncul di TV, diwawancarai, adu argumentasi, saling andalkan konsep, saling membenarkan diri, dsb.nya. Rakyat akhirnya hanya menjadi penonton. Tapi hati-hati sebab penontonpun bisa marah jika kecewa apalagi merasa sudah membayar (lewat pajak-pajak) tetapi pertunjukkan cuma isapan jempol belaka.

Apakah ini yang disebut pendidikan politik bagi rakyat? Tapi nyatanya kerusuhan dimana-mana, tawuran sering terjadi, bahkan calon-calon intelektualpun saling bergaya macam “Rambo” (kehabisan amunisi). Apakah tidak lebih baik jika saling mengisi kekurangan bukan mengorek kekurangan orang lain? Apakah mustahil saling menyamakan persepsi dan visi membangun negeri?!

Demokrasi kita bukan demokrasi kebablasan!

Maaf jika ada yang tersinggung meski maksudnya tak ingin menyinggung.


Upaya Disskreditkan TNI

11 Desember 2009

Pagi tadi, Jumat 11 Desember 2009 pk.08.30 wib, ada program yang menyiarkan tentang film Balibo produksi Australia. Beberapa tokoh pelaku sejarah yang terlibat langsung operasi ’seroja’ diwawancarai. Lalu ada pikiran tersirat dalam hati:

Sebuah film dibuat untuk mengekspresikan gejolak rasa & karsa sesuai kreatifitas pembuatnya sebagai bahan komoditas atau lain sebagainya. BALIBO tidak terlepas dari itu tetapi ada indikasi lain, bukan hanya product untuk dijual tetapi penuh muatan nuansa politiknya.

Dalam pertempuran hanya ada satu dari dua pilihan dibunuh atau membunuh. Seorang wartawan perang harus berani tanggung resiko kehilangan nyawanya diterjang peluru yang tak bermata. Sebagaimana wartawan olah-raga sepak bola yang menanggung resiko apabila terkena lemparan botol atau benda keras lainnya jika terjadi kerusuhan di stadion. Konsekwensi logis ini bukan hal yang aneh atau menjadi luar-biasa. Tidak. Justru menjadi lumrah saja.

Negeri kita memang sedang dikacau pihak-pihak tertentu (entah siapa & dari mana) agar kenyamanan, keamanan, ketentraman terganggu sehingga stabilitas hidup kemasyarakatan menjadi labil. Dalam keadaan situasi masyarakat yang labil inilah diam-diam akan tampil ’sosok’ yang pasti  memanfaatkan situasi agar negara ini terlebih dulu hancur dari dalam (oleh orang dalam?).

Film BALIBO bila diputar ditengah masyarakat biarlah masyarakat yang akan menilainya sendiri. Dampaknya ada dua; membenci Australia atau TNI. Anehnya, mengapa jutru film tsb baru masuk justru disaat-saat negeri ini sedang terkacaukan oleh berbagai kasus, al: Bom & teroris, Cicak & Buaya, Century, Pemilu & Pemenangnya, dll. Mengapa setelah 24 tahun kemudian film tsb diluncurkan di Indonesia?

Sebuah negara memang yang harus menjadi perhatian nomer satu adalah pertahanannya, angkatan bersenjatanya, mampu & ampuh tidaknya. Australia termasuk yang ‘takut’ pada tentara Indonesia apalagi semasa Benny Murdani Panglima ABRI-nya. Setelah Malaysia ‘menjajal’ kemampuan TNI kita lewat penyusupan teritorial lautnya, kini Australia lewat provokasi filmnya. Tentu dengan harapan agar rakyat Indonesia antipati pada TNI dan menolak pembangunan pertahanannya dengan alasan Anti Militerisme!

Gonjang-ganjing di negeri ini terus saja berlangsung, tetapi kitalah yang harus mampu menghentikannya dengan cara berpikir, bersikap & berbuat dewasa. Karena negeri ini terletak ditangan kita bukan tangan pihak asing yang masuk lewat LSM - dsb.nya. Kitalah yang bertanggugjawab. Tiupan-tiupan angin yang mendisskreditkan seseorang (pejabat, tokoh, dll) hendaknya bisa kita kaji betul dan evaluasi. Misalnya saja; Apakah tidak ada maaf bagi yang bersalah. Apakah kita sudah bersih dari setiap kesalahan. Tidak ada manusia sempurna selain Tuhan. Jangan sampai negeri ini sudah jatuh ketimpa tangga, atau keluar dari kandang macan masuk kemulut singa.

Demo Anti Korupsi kemarin (09 Dec. ‘09) relatif berjalan mulus dan lancar. Tetapi itu di Jakarta. Perhatikanlah diluar Jakarta. Demo yang cenderung anarkhis dan makar mulai diperlihatkan. Lalu siapa yang bertanggungjawab. Polisikah? Berapa jumlah personiel Polri bila dibandingkan dengan rakyat?! Kita semua memang benci korupsi dan sudah barang tentu Anti Korupsi. Berilah kesempatan pada yang berwenang & kompeten untuk menelisiknya. Lalu tak perlulah kita mencaci-maki  sana-sini atau adu argumen bersilat lidah. Tampilkan bahwa kita bangsa yang dewasa dan smart! (bukan Taman Kanak-2).

Film “Balibo” memperlihatkan bagaimana cara orang Australia memandang Indonesia. Film adalah kejujuran. Bila fakta originilitas tidak digarap sebagaimana adanya maka demikianlah memang cara mereka melihat Indonesia. Berbeda dengan film produksi Hollywood yang dengan detail mengugkap kebenaran secara jujur dan apa adanya (netral).


Wanita Perkasa

10 Desember 2009

Sejak awal dia melangkah

ta’ da sedikit pun rasa bersalah

ker’na memang dia tak bersalah

apakah salah bila kata hati merambah

menuju dan mencari muara kata-kata ‘tuk mencurah.

Sama sekali tak terbesit pada dirinya

bahwa suatu ketika apa yang dicurahkan menjadi petaka

dari rentetan petaka yang sudah dialami sebelumnya;

perlakuan tidak adil dan semena-mena.

Dia ingin bicara tentang deritanya

tentang dukanya

tentang hari-harinya

tentang ketak-berdayaannya saat terlentang pasrah

disuapi obat-obatan yang dia sendiri tidak tahu untuk apa.

Sekarang aneka problema menggelutinya

tetapi dia tetap tegar, kokoh dan teguh

kendati air-mata menutupi penglihatannya;

apa salah saya?!

Berjuta kata sesal apa gunanya

sumpah serapah pun ta’ kan menolongnya

hanya satu dambaannya:

perlakukanlah saya secara adil!

Apakah keadilan bukan milik orang kecil

apakah keadilan terdiri dari angka-angka nominal

lalu dimana letak kemanusiaan apabila keadilan

berseberangan dengan hati nurani dan moral.

Dia adalah wanita perkasa

yang melangkah tegar mengibaskan segala rasa

kendati hati kecilnya menjerit

berontak dan meronta

galau hatinya bersarang dan mengendap dihati masyarakat.

Kini dari segenap pelosok Nusantara datang menghampirinya

mendukungnya

membelanya

meneguhkannya

bahwa dia tidak sendirian

bahwa keadilan harus dinyatakan

bahwa ketimpangan dan kesenjangan sosial mesti dilumpuhkan.

Berdirilah teguh menatap hari

acungkan lengan dan kepalkan:

Merdeka…!

adakah keadilan ditanah Merdeka ini…?

asap-semeru1Bak asap hitam yang menggumpal akibat kedakan

demikianlah adanya saat sekarang ini

kerna ta’ da asap bila tiada api

mari kita semua refleksi.

  • ‘tuk ibu Prita - Indonesia ada dibelakang ibu …









Buktikan Indonesia Aman

8 Desember 2009

Tak ada yang tahu hari esok keadaan kita. Seperti kita tidak tahu bagaimana masa depan negara kita. Semua orang merasa benar dalam pembenarannya. Orang jujur tersingkir. Topeng-topeng kemunafikan enggan dilepas hanya demi harga diri yang sifatnya sesaat (semu). Bersyukurlah masyarakat sekarang mulai pintar menganalisa situasi. Sebab itu para ellite politik/pemimpin bangsa/pejabat dan lain sebagainya hendaklah bersikap santun atas masyarakat. Paling tidak bicara benar jika memang benar.

Pasti kita semua tidak ingin peristiwa kelabu ( th 1998 ) kembali terjadi apapun alasannya. Demo besar-besaran sangat rawan dengan anarkhis/makar. Siapa yang bisa menjamin massa yang meluap tidak mudah dipengaruhi? Jangan sampai bila terjadi sesuatu lantas cuci tangan dengan alasan: Itu bukan kehendak kami. Pasti itu orang susupan. Kelompok kami tidak mungkin memulai melakukannya. Dst-dst.nya.

Alam demokrasi di Indonesia sangatlah berbeda dengan alam demokrasi dinegeri paman Sam atau Eropa lainnya. Jujur saja bahwa mayoritas masyarakat kita belum mampu bertindak dan bertingkah sebagaimana para demonstran diluar negeri. Kultur budaya kita tidaklah sama dengan ‘mereka’ yang selalu mendengung-dengungkan DEMOKRASI!

Kita mulai saja dari pendidikan. Bagaimana dan apa yang telah dan pernah kita terima ketika kita di SD, SMP, SMA menyusul kemudian PT. Tidak semua anak masyarakat mampu melanjutkan tingkat pendidikannya ke SMP, SMA apalagi Perguruan Tinggi. Tingkat pendidikan tentu saja sangat mempengaruhi seseorang dalam bertingkah-laku dan bertindak. Andaipun seseorang mampu menyelesaikan sampai tingkat Sarjana akan tetapi sisi moral apakah menjamin ybs dapat berkiprah secara optimal ditengah masyarakatnya?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka yang mendapat kesempatan duduk dikursi empuk lantas lupa pada masyarakatnya. Lebih memprihatinkan malah tega mencuri uang masyarakatnya. Pendidikan di Indonesia memang mahal, barangkali karena ini pula, maka demikian ybs berhasil meraih jabatan maka serentak itu pula hukum Untung-Rugi berjalan. Apa untungnya saya melakukan pekerjaan itu? Rugi saya kalau harus melaksanakannya dengan baik! Saya sekolah mahal-mahal masyak cuma seperti ini yang saya dapat?!

Jadi marilah kita semua menjaga negara ini supaya aman dari segala ancaman apapun bentuknya. Sadarlah bahwa apa yang terjadi sekarang ini sangat dimungkinkan diambil kesempatan oleh pihak tertentu, entah itu perorangan, kelompok, atau siapa saja yang memang menghendaki negara ini semrawut. Tanggungjawab terpulang kepada kita sebagai anak masyarakat, anak bangsa, anak negeri yang mencintai tanah tumpah darahnya. Janganlah kita dikenal sebagai bangsa yang suka tawuran (Barbar) seperti yang sering terjadi: antar mahasiswa/kampus, antar kampung, antar suku, dsb.nya. Dapatkah kita membuktikan pada dunia bahwa INDONESIA aman, buktikanlah bahwa negara kita dikenal ramah, suka bergotong-royong.

Buktikan bahwa kita bangsa yang berbudaya.

Salam Perbaikan Negeri!


Pertunjukan Teater Besar

6 Desember 2009

Sadar atau tidak sekarang ini kita sedang disuguhkan satu pementasan teater akbar dalam scope nasional. Asli teater dari pelaku-pelaku tokoh yang berkarakter. Sebagai penonton sebaiknya kita bersikap arif dan bijaksana dalam menyaksikannya agar alur cerita dapat kita ikuti dengan seksama sehingga salah-benarnya/hitam-putihnya mampu kita serap dan amati betul.

Judulnya pasti kita semua tahu karena sudah menjadi rahasia umum. Ceritanya sekarang ini  sedang bergulir dengan lancar tetapi penonton belum tahu (susah ditebak) kira-kira sampai dimana endingnya. Jika kita menengok bagaimana Hollywood mengkemas sebuah cerita dengan begitu teliti dan njlimet maka teater yang sedang bergulir inipun ceritanya sulit ditebak. Tanjakkan dramatiknya turun-naik, berliku dan berkelok, cenderung membingungkan. 8372016-sm

Inti ceritanya menguak misteri. Tokoh-tokohnya masih datang dan pergi. Penonton belum tahu mana tokoh utama dan mana tokoh pembantu. Mana tokoh antagonis dan yang mana tokoh protagonis. Memang mengasyikkan sekaligus menyebalkan dan memuakkan. Tapi apa hendak dikata, cerita yang bagus memang harus mampu mempengaruhi penontonnya, harus mampu menggerakkan emosi penonton.

” MENGUAK MISTERI PEMBOBOL SYIENTURI”

Tapi jangan kecewa jika pertunjukan teater yang sedang kita saksikan hanya berakhir pada ‘never ending story’. Karena apa? Ini membuktikan bahwa kita memang belum mampu bikin cerita besar dengan penyelesaian yang memuaskan. Kita baru mampu bikin cerita besar tapi dengan penyelesaian minim. Barangkali untuk ngirit budget produksi. Entahlah.

8372018-sm Pertunjukan Besar Teater Menguak Misteri ini   memang patut kita ikuti. Semuanya memang serba misteri. Produsernya misteri, Sutradaranya misteri, Penulis Skenarionya pun misteri. Ini benar-benar asli cerita MISTERI. Oleh karena itu tidaklah bijaksana jika kita menjadi penonton yang MISTERI. Kendatipun cerita-cerita misteri memang sudah dilarang tetapi yang ini asli harus dinikmati.

Marilah menjadi penonton yang bijaksana.


Enam December

5 Desember 2009

Kacau balau kisruh semrawut porak poranda hancur lebur. Semuanya pasti tak menghendaki hal itu terjadi, apapun alasannya dan atas nama apapun, karena kelanggengan negeri ini ada ditangan kita bukan ditangan pihak asing (yang barangkali suka menghembuskan angin puting beliung mengatas-namakan apapun juga). Bangsa ini tengah dilanda erosi kepercayaan dan dekadensi moral yang pasti saja ada pihak tertentu akan memanfaatkan keadaan. Jika kita tahu kekurangan kita marilah sama-sama duduk satu meja membicarakannya, mencari solusinya, jangan anarkhis-makar-membabi-buta. Kita harus sadar betul bahwa sekarang ini bangsa kita tengah diuji, tengah diteropong, bahkan tengah dipermainkan pihak tertentu melalui kasus-kasus yang berbau (maaf) kerakusan, kebringasan, ketidak-adilan. Rakus karena uang, beringas karena egois, tidak-adil karena tak mau posisinya tergeser.

Berkumpulnya massa disatu tempat (apalagi dalam jumlah besar) cenderung akan mudah diprovokasi karena sifatnya yang sugestif. Massa akan mudah dikendalikan, dipengaruhi, dan sadar maupun tidak akan bergerak sesuai gerak gelombang massa itu sendiri. Unjuk rasa, unjuk kekuatan, akan mengalir tak terkontrol manakala bertemu dengan massa lain yang berbeda aspirasi. Dan kebringasanpun akan terjadi. Massa yang beringas, liar, tak terkendali akan mudah menghancur-lumatkan apapun yang dilewatinya. Apakah akan dihadapi dengan moncong senapan? Inipun tidak bijaksana karena korban yang jatuh pada akhirnya saudara sendiri. Nah, kita semua tidak ingin terjadi perang saudara, bukan?

asap-semeru

Memperingati Hari Anti Korupsi apakah harus dengan pengumpulan massa? Jika betul demikian maka ada indikasi lain yang tersimpan dibaliknya. Mengapa tidak dilakukan saja per wilayah (Pusat, Utara, Timur, Barat, Selatan) agar jalannya perayaan Hari Anti Korupsi Sedunia bisa aman, nyaman, tentram, lebih bersahaja dan wibawa. Jauh dari arogan, huru-hara, dan keresahan. Siapa bisa menjamin kumpulan massa yang begitu besar dapat terkendali & dikendalikan? Masalahnya saat sekarang suhu sedang memanas! Bagai api didalam sekam yang sewaktu-waktu mudah meledak & terbakar. Apakah ingin negara kita selalu berantem melulu, selesaikan dengan otak bukan otot, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang warganya rata-rata berjiwa besar (bukan emosional), berhati mulia (bukan picik), dan berwawasan kebangsaan yang profesional (smart).

crazy_harry

Negara ini sedang dihantam dari luar maupun dalam. Banyak kasus telah bicara: BLBI, Anggoro, Century. Belum lagi tawuran didaerah berebut lahan, perang antar kampung, kehendak pemisahan diri dari NKRI. Lebih prihatin lagi soal tawuran para calon intelektual bangsa (mahasiswa/antar  kampus/fakultas). Sepertinya ada ’sesuatu’ yang sedang mengobok-obok negeri ini.  Warganya harus sadar betul. Namun bentuk kesadaran itu bukan emosional. Karena emosi selamanya tidak akan dapat menyelesaikan masalah. Bentuk kesadaran itu adalah bertemu disatu meja (diliput oleh media), berdebat secara logika, dan mengedepankan kejujuran. Sebuas-buasnya harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri.

Jalan mana yang mesti kita pilih: Demonstrasi atau Diplomasi?

Dibutuhkan diplomat-diplomat ulung dikalangan rakyat. Diplomat yang mengorbankan kepentingan pribadi mengusung kepentingan rakyat. Diplomat yang berjiwa bersih, berhati murni, masih adakah?

Salam Perbaikan Negeri.


THUYUL …

4 Desember 2009

dirk-juergensen-tomtitIni cerita dari orangtua kita yang terus berlangsung turun-temurun yang sulit diterjemahkan dimasa sekarang tentang keberadaannya, aktifitasnya, kenakalannya dan ulahnya. Paling sulit dilacak (bahkan oleh KPK sekalipun) bila thuyul mulai bergerilya mencuri uang siapa saja demi boss-nya (majikan). Ulahnya memang merugikan orang banyak tapi tingkahnya paling sulit dilacak. Lalu apa yang bisa kita lakukan jika thuyul mulai bertingkah menjengkelkan seperti itu. Siapa yang bisa menangkap thuyul?

Bang Sianturi sekarang ini benar-benar tidak berdaya. Uangnya sudah habis didodosi (dicuri) sementara siapa pelakunya belumlah diketahui. Apakah benar pelakunya adalah ‘thuyul’ yang nakal yang senang membuat onar? Bang Sianturi menjadi pelengkap penderita sekarang ini dan cuma bisa pasang badan. Mau diapa-apakan yah terserah saja karena memang sudah tak punya daya. Mau diobok-obok ya silakan, mau diganti nama ya monggo mawon.

Konon kabarnya Bang Sianturi pernah dikasih talangan uang demi mempertahankan hidupnya agar bisa tetap sehat dan segar bugar tapi entah kenapa uang itu justru hilang ditengah jalan tanpa tahu siapa yang ambil? Nah, barangkali benar di tanah Jawa ini ada thuyul yang menyambar dan memberikannya pada sang majikan (yang tentu saja misterius).

Tetangga Bang Sianturi heboh, gempar, rame-rame pada membicarakannya. Bahkan bukan cuma membicarakan tetapi juga ada yang usul bikin tim pencari fakta? Tapi apa benar thuyul itu fakta?! Faktanya apa kalau thuyul itu ada! Thuyul pasti sulit dilacak apalagi ditemukan. Apa perlu tenaga paranormal yang profesional agar sosok thuyul itu bisa tampak jelas (kasat-mata) lalu bisa ditangkap rame-rame…?

Uang yang diraib thuyul memang cukup banyak. Bahkan mungkin bisa bikin tenggelam tanah Jawa jika dibelikan beras atau kerupuk atau apa sajalah yang semacamnya. Kita memang harus pasrah diri, banyak-banyak tawakal, berdoa dan beramal mengingat tahun 2012 itu sungguh mengerikan.

Jangan percaya dengan tahun 2012, jangan percaya sama thuyul, tapi apa kita tidak boleh percaya dengan raibnya 6, 7 trilyun…?

Salam perbaikan negeri!