Sudah lama masyarakat kangen, oh tidak, bukan, melainkan sudah terlalu lama masyarakat tenang, nyaman, tanpa gangguan goncangan hingar-bingar ledakan dan teriakan panik serta cucuran darah kini ternyata boom itu kembali menyapa dengan tutur katanya yang santun: Mohon Memberikan Surat Pengantar atau semacam testimoni begitu. Yang disasar tentu saja perorangan/person/individu dengan maksud agar menimbulkan effek jera begitu, dengan begitu diharapkan yang disasar itu bukan tewas melainkan cacad seumur hidup sehingga masyarakat/komunitas yg disasar menjadi ‘break-down’ dan dengan sendirinya melemahkan mental.
Apa Kabar Boom adalah hentakan ringan namun bisa berdampak serius bagi masyarakat. Dan dengan sendirinya masyarakat sendirilah yang idealnya jangan lemah dan tetap waspada dengan keadaan lingkungannya. Sebagai contoh saja Paket Boom yang gagal dikediaman Ahmad Dhani. Namun kegagalan ini bisa menjadi bahan evaluasi pelaku intelektualnya dan menjadikannya pelajaran agar berikutnya tidak gagal lagi.
Peranan masyarakat selalu menjadi tumpuan, berapalah jumlah aparat bila dibandingkan masyarakat. Aparat tidak bisa banyak berbuat jika masyarakat cuma diam menutup mata & telinga. Informasi selalu dibutuhkan dari masyarakat terutama bila didapatinya ada kegandjilan yang mencurigakan. Masyarakat adalah mata & telinganya aparat. Masyarakat adalah lumbung-lumbung rawan kejahatan & teror. Hanya masyarakat sendirilah yang memiliki mata elang buat mengawasi, cakar tajam untuk merobek informasi, sehingga apapun & siapapun yang aneh, asing, ganjil & mencurigakan ditengah masyarakat keseharian dapat diamati.
Masyarakat & aparat adalah mata dan telinga serta hidung didalam satu kepala. Mata untuk mengawasi, telinga untuk mencari dengar, dan hidung untuk mencium adanya bahan peledak yang sedang dirakit. Sehingga tidak perlu menunggu MELEDAK dulu baru DILACAK tetapi sebelum meledak sudah terlacak.
Memerangi teroris yang paling sulit adalah menumpas ‘pahamnya’ ketimbang menewaskan pelakunya. Ketika aparat berhasil membekuk dan menewaskan pelakunya muncul kata-kata sergapan gencar: Melanggar HAM. Nah, sekarang masalahnya siapa yang terlebih dulu telah melanggar? Menghilangkan nyawa orang lain, melukai orang lain, membuat tidak nyaman orang lain, mengusik orang lain, apakah itu bukan pelanggaran HAM?! Lantas sebatas apakah pemahaman kita tentang HAM….??? Ataukah HAM telah memiliki arti yang lain di bumi Pertiwi ini.
Di Indonesia sekarang ini, warga negara mengancam Presidennya terbebas dari tuduhan, Presiden memaklumatkan keputusannya tidak ada yang mendengarkan (not action talk only). Sedih, memang menyedihkan. Prihatin, memang sangat memprihatinkan. Jangan sampai rakyat/masyarakat mengambil keputusannya sendiri, menggelar parlemen jalanan untuk bertindak sendiri. Kita semua (kecuali komunitas tertentu) masih mencintai Kesatuan & Persatuan atas dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafahkan Pancasila.
Indonesia adalah Indonesia yang dibangun diatas bumi Nusantara dan bukan negeri seribu satu malam yang bersifat dongeng untuk anak yang diceritakan setiap menjelang tidur. Barangkali dari dongeng inilah maka muncul mimpi ‘pembenaran’ diri ingin membangun negeri melalui ledakan, teror & pemaksaan kehendak.
Mari membangun negeri sesuai UUD ‘45 & Pancasila agar tidak menjadi dongeng anak menjelang tidur (panjang).
Tags: Masyarakat & Situasinya
Posted in kaum muda
Kata-kata itu lebih bernuansa sapaan yg mengharapkan dari yg disapanya memberi jawaban: “Baik, selalu baik”. Namun apabila sapaan itu datangnya dari luar negeri meskipun sahabat sendiri tentulah bernuansa lain. Lalu apa & bagaimana cara kita menjawabnya? “Baik, tetapi heheee… ngeri juga?!”
Negara-negara di Timur Tengah bergolak. Bahkan pernah disalah satu media TV ada yg berani mengancam Kepala Negara sambil sesumbar: Jangan sampai negeri ini di ‘Mesirkan’. Adalah aneh dan janggal bila negeri aman makmur dan sentausa ini akan dibuat bergolak & pergolakan. Juga lucu bila seorang warga negara berani mengancam presidennya.
Timbul pertanyaan: Apakah Bangsa ini telah kehilangan Jatidirinya, moralnya, sopan-santun dan etikanya. Lalu bagaimana harus mengembalikan itu semua agar Bangsa ini benar-benar adalah Bangsa Besar sebagaimana jaman Majapahit dan sebelumnya. Kita mulai melupakan & mengabaikan warisan leluhur dan nenek-moyang kita. Bangsa ini tidak bisa disamakan dengan bangsa lain di dunia. Bangsa ini memiliki ciri-khasnya, sopan-santunnya, tata-krama. Namun apabila setiap warga negara meng-klaim bahwa ini adalah jaman demokrasi, jaman apa saja boleh disuarakan & dilakukan, lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Benarkah kitsa sudah dewasa untuk berdemokrasi? Demokrasi di Indonesia tentu saja tidak bisa tumplek-pleg disamakan dengan Demokrasi ala Barat. Bangsa kita belum siap untuk lompatan sejauh itu.
Bagan Ajaran Leluhur Nusantara, wajib dipahami sama org Indonesia jika mau jaya spt leluhurnya…
Tags: Masyarakat & Situasinya
Posted in Umum (anak
Mari kita berpikir secara gampang dan bicara secara gamblang, karena sekarang ini sudah banyak orang pinter tapi keblinger, kalau bicara muter-muter biar kelihatan keminter. Siapa yg tidak cinta negeri ini, siapa yg mengutuk negeri ini, siapa yg ingin merubah negeri ini?
Ini bukanlah negeri impian tetapi Republik Indonesia. Enampuluh lima tahun merdeka dari penjajahan Belanda, Portugis, Jepang dan selama enampuluh lima tahun pula kita selalu bersengketa tak kunjung habisnya. Apakah ini ciri & cara kedewasaan kita? Era Orde Lama sudah tumbang, era Orde Baru sudah lengser, era Reformasi terus saja kisruh padahal sudah jelas negera ini berlandaskan Pancasila & UUD \’45. Tentu tidak satupun diantara kita (sebagai warga negara yg baik) mau dikatakan \’anti Pancasila\’ dan UUD \’45. Tidak satupun diantara putera bangsa ini ingin hidup dibawah tekanan (kemiskinan, kebodohan, kelaparan, ancaman perorangan/kelompok, dsb.nya) mengingat negara kita sangat menjunjung tinggi Hak Asazi Manusia (HAM) yg jangan hanya dibibir saja. Hak hidup, hak berbangsa & bernegara, hak beragama/berkeyakinan, hak beribadah dan mengekspresikan imannya. Sebagaimana dimata Tuhan setiap manusia maka demikian pula dimata negara setiap manusia sama sebagai warga negara. Tidak ada diskriminasi, isolasi, maupun tekan-menekan/ancam-mengancam. Manusia diberikan hak-nya atas hidupnya, dirinya, nasibnya serta hari depannya. Tuhan memberikan manusia ciptaan-Nya kemerdekaan penuh dalam menentukan ke-\’ada\’-annya. Eksistensinya. Apakah manusia itu mau masuk surga atau terjun ke neraka.
Dewasa dalam bernegara tentu saja dewasa dalam beriman, dewasa dalam beriman tentu saja dewasa dalam hidup keseharian (bukan naif/kekanakan) dan tidak mendikte orang lain/sesama apalagi menghakiminya. Cinta Tuhan tentu saja cinta sesama (mahluk ciptaan-Nya). Cinta yg vertical harus diseimbangi dengan cinta yg horizontal.
Mari, kita dewasa dalam bernegara, dewasa dalam beriman, dewasa dalam bermasyarakat. Negara Kesatuan Republik Indonesia jangan disamakan dengan negara lainnya. Bhineka Tunggal Ika adalah dasar negara. Banyak suku, agama, budaya, adat-istiadat itulah REPUBLIK INDONESIA.
Mari kita saling menghormati (tidak saling menekan & menyakiti), saling mengakui, saling menghargai. Cintailah sesamamu sebagaimana engkau mencintai Tuhanmu. Mencintai ciptaan-Nya berarti telah mencintai Pencipta.
Posted in kaum muda
Jahat & Baik = Hitam & Putih
Hitam dan Putih adalah warna yang tegas, jelas dan kontras. Dua warna berseberangan dalam ketegasannya. Dua warna yang akrab dan sering digunakan dalam keseharian. Warna yang bermakna dalam dan memiliki arti tersendiri. Sebagaimana Yin & Yang, Zebra Cross, Seragam tertentu, bahkan sampai kotak catur & bidaknya menggunakan warna ini. Di Bali warna inipun menghiasi kain bermotif kotak-kotak. Tetapi sebuah negara, adakah yang berbendera HITAM & PUTIH? Ini pertanyaannya…
Jika ada negara berbendera Hitam & Putih pastilah bukan Indonesia karena negeri ini benderanya Merah & Putih. Jika ada negara bernuansa Hitam & Putih pastilah kita salah-satunya. Hitam biasanya perlambang kejahatan sedangkan Putih simbol kebaikan. Hitam & Putih selalu berdampingan bahkan kadang saling mendahului untuk saling menguasai. Pertanyaan selanjutnya yang paling menggelitik ialah; Putih sangat mudah dilunturi/terkena lunturan sementara hitam justru paling dominan untuk melunturi karena tidak pernah ada sejarahnya Hitam dilunturi Putih (malah sebaliknya).
Sebenarnya hendak kemanakah pembicaraan ini….? Pembicaraan ini hendak mengerucut ke arah itu tadi, bahwa putih cenderung dikalahkan/terkalahkan oleh hitam dalam keadaan bagaimanapun/apapun juga. Apakah ini takdir?
Sehari-hari kita saksikan dilayar televisi, kita baca dikoran-koran, dimana-mana kejahatan merajalela. Ibu membunuh bayinya sendiri, cucu menewaskan neneknya, perkosaan, perampokan, pembunuhan, perselingkuhan, belum lagi tawuran antar kampung/kelompok/suku, antar generasi muda (kampus/sekolah) yang masing-masing dengan pembenarannya sendiri-sendiri, masih lagi dilengkapi dengan demo-demo dibarengi kerusuhan soal pilkada. Ledakan-ledakan gas berkekuatan 3 kg. Dll.
Indonesia sedang berduka. Gempuran dari dalam (internal) multikompleks sifatnya menyusul gempuran dari luar (eksternal) soal kedaulatan yang tak pernah selesai diganggu, harga diri bangsa dan martabatnya yang dilecehkan. Kesemuanya seolah ada yang mengkoordinir, ada yang mengatur dalam kesatuan koordinasi, musibah datang secara teratur sesuai pemberitaan. Soal terorisme (semua pemberitaan ttg terorisme), soal tabung gas 3 kg (semua soal gas 3 kg), soal kerusuhan/tawuran (semua soal tawuran/kerusuhan), soal pembunuhan berantai, soal perampokan bersenjata, soal… soal… soal…. banyak lagi persoalan di negeri ini yang tak kunjung selesai secara tuntas. Apalagi soal korupsi & narkoba. Dua tindak kejahatan yang berbeda namun berdampak sama bagi rakyat Indonesia. Korupsi membuat rakyat kelaparan, narkoba membuat generasi penerus bangsa melempem/sakit. Negeri ini benar-benar bagaikan telur di ujung tanduk.
Kejahatan memang tidak akan pernah menang melawan kebaikan, tetapi jangan lupa bahwa kebaikan tidak selamanya mampu bertahan dari bujuk rayu & iming-iming kejahatan yang selalu menawarkan manis & indah-indah walau itu sifatnya sementara. Dengan kata lain, tidak semua orang dapat bertahan hidup dalam kemiskinan & kelaparan, jika perut menuntut untuk diisi revolusi sosial akan bicara. Inilah yang tidak kita kehendaki bersama.
Sejarah selalu bicara, bahwa kaum muda/pemuda selalu dapat merubah sejarah keberadaan suatu bangsa, contoh saja sejak jaman pergerakan kemerdekaan (kaum muda yang tampil), runtuhnya Soekarno (kaum muda/mahasiswa/pelajar yang tampil demo di depan Istana), jatuhnya Soeharto (mahasiswa/pelajar/pemuda yang tampil) semuanya selalu terletak ditangan orang-orang muda. Ingat suatu pepatah: Barangsiapa bisa memegang pemuda maka dia akan mampu menguasai dunia.
Setiap generasi selalu melahirkan jamannya, jaman perang kemerdekaan (1945), jaman perang politik (1965), jaman reformasi (1978) dan kini jaman internet….? Barangkali, lain lagi pepatahnya yakni: Barangsiapa menguasasi internet maka dia akan mampu menguasai keadaan suatu bangsa/negara.
Sekarang ini kita hidup dalam jaman internet (IT) sehingga media yang satu ini perlu digunakan sebaik-baiknya (bukan seburuk-buruknya) agar hari depan bangsa ini, generasi ini, dapat tetap survive di mata dunia. Generasi kita adalah generasi yang pintar, jenius, terbukti dari beberapa kali Olympiade Ilmu Pengetahuan generasi Indonesia mampu meraih medali emas, perak & perunggu. Artinya, jika sekian puluh juta lagi generasi muda Indonesia mendapat pendidikan yang layak (jangan mahal-mahal biaya sekolah) maka tidak mustahil Indonesia benar-benar dilihat di mata dunia.
Jangankan buat sekolah, buat makan saja susah, ini kata-kata klasik yang sangat memalukan jika didengar oleh negara lain (apalagi negeri jiran).
Salam perbaikan negeri.-
Tags: Sosial kemasyarakatan
Posted in Masyarakat. Kondisi sosial.
Indonesia Negaraku, Bangsaku, Bahasaku. Sudah 65 th negeri kita merdeka. Banyak kekurangan yang harus dibenahi. Bukan saja masalah kemiskinan tetapi pun korupsi yang sudah membudaya. Memberantas korupsi sama saja merubah system. Negara yg kaya akan sumber daya alam (laut, darat) ini sebenarnya rakyatnya tidak perlu sulit mencari makan dan menyekolahkan anak-anaknya jika semuanya dikelola secara baik & benar.
Belum lagi selesai membenahi diri sendiri, sekarang ini kita masih harus berurusan dg negara (kota Malaya) yg disebut Malaysia, sejauh apakah Malaysia dapat mempengaruhi kehidupan bernegara kita, sesungguhnya bukanlah hal yg sulit mengingat negara itu sebenarnya bagian (jaman Bung Karno) dari Ibu Pertiwi. Kita sudah mencanangkan kemerdekaan di tahun 1945, sudah berdaulat sejak bulan Agustus 1945, dunia sudah mengakui itu yang artinya dengan batasan teritorial tertentu sejak Agustus 1945.
Pertanyaannya, lalu sejak kapankah Malaysia itu merdeka? Sebuah kemerdekaan yang dihadiahkan pihak Inggris, tidak melalui tetesan darah - keringat dan airmata, sebuah negara bonekanya Inggris.
Negara yg merdeka karena pemberian/hadiah itu sekarang kebingungan karena tidak memiliki budaya, tidak punya teritorial, tidak punya tenaga kerja sekaligus tentu saja tidak punya rasa malu. Batas perairan sudah diterobos karena mereka tidak tahu dimana wilayah teritorialnya, lalu mengejar dan menangkap 3 orang abdi negara kita (Dinas Perikanan & Kelautan). Bisa diandaikan saya masuk ke halaman orang lalu saya tangkap orang yang ada disitu padahal dia pemilik halaman, aneh bukan?
Yang paling menyakitkan adalah mereka mengklaim seni budaya kita (reog Ponorogo, Tari Pendet, Batik, Lagu Rasa Sayange, dll). Jika sudah melampui batas seperti itu lalu kita masih saja tersenyum dan bertingkah laku santun kepada mereka hanya karena mereka mengatakan: Kita kan Saudara Serumpun. Perlakuan yang pantas kita berikan kepada mereka hanyalah; hentikan hubungan diplomatik. Tidak semudah itu? Baik, tidak semudah itu, tapi apakah lantas kita akan terus berdiam diri sementara bertubi dan beruntun mereka selalu melakukan teror terhadap kita.
Teramat sangat menyakitkan adalah, bukan saja batas wilayah kedaulatan kita yang diterobos seenaknya, batas perairan & darat (kalimantan jika kita tidak hati-hati karena diam-diam disana ada pasukan tak dikenal yang dilatih & terlatih dengan senjata modern) tetapi bahkan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya sudah dilecehkan/dihina habis-habisan dengan menyelewengkan liriknya. Nah, masihkah kita tinggal berdiam terus tanpa berani menampilkan jatidiri bangsa segalak era Bung Karno. Apakah benar kita bangsa yang patut dilecehkan dan dihina? Lalu dimana letak harga diri kita, martabat kita sebagai bangsa yang besar karena berhasil merebut kemerdekaan kita dari tangan penjajah.
Senjata memang bukan satu-satunya cara yg tepat menyelesaikan masalah, begitu juga konflik phisik, tetapi diplomasi yang tegas & keras patut kita lemparkan kepada mereka, sebagai pernyataan bahwa kita bangsa merdeka yang berdaulat dan disegani.
Kita sudah terlalu banyak dipermainkan oleh mereka yang mengaku diri serumpun tapi tingkah-lakunya jauh dari santun. Indonesiaku, Bangsaku, bangkitlah! (Jangan tidur melulu…..?).
Tags: Pertahanan Negeri
Posted in kaum muda
Nama-nama tsb di atas mengingatkan kita pada daerah/lokasi/wilayah yang ada di Ibukota kita seperti: Kampoeng Melayoe, Kampoeng Jawa, Kampoeng Ambon, dll. Ini juga mengingatkan kita pada puluhan tahun lalu (saat penjajahan) dimana tempat itu memang digunakan sebagai domisili suku yang hijrah ke Batavia. Bisa dibayangkan ketika itu bagaimana rasatinggal & hidup dikotak-kotakkan seperti itu. Barangkali maksudnya agar pihak Belanda mudah menetralisir apabila sewaktu-waktu terjadi pemberontakkan yang dapat menggoyahkan kestabilan keamanan. Begitupun di daerah kota (Jakarta) yang disebut Pecinan dimana warga etnis Tionghoa hidup, berkumpul & berdagang. Ketika terjadi pemberontakkan disana ribuan warga China dibunuh dan mayatnya dibuang ke kali (bangke) Angke.
Maaf, bukan maksudnya ingin menuliskan tentang sejarah masa lalu, tapi sekedar flash back saja agar kita bisa melihat sejarah sebagai ’sejarah’ bukan cerita pepesan kosong. Ketika itu barangkali memang harus terjadi begitu sehingga dengan demikian seiring berjalannya waktu timbullah pergerakkan perlawanan untuk merdeka dari tangan penjajah. Dan itu terbukti kemudian dengan berkumpulnya para pemuda di Kramat untuk menyatukan kebulatan tekad: Berbangsa, bangsa Indonesia. Berbahasa satu, bahasa Indonesia. Bernegara satu, negara Indonesia (Satoe Noesa, Satoe Bangsa, Satoe Bahasa). Soempah Pemoeda itu akhirnya berhasilkan merontokkan nyali penjajah bahkan kita mampu merdeka dari cengkeraman kuku mereka.
Ketika itu memang diperlukan kelompok-kelompok (organisasi) seperti itu guna menggedor penjajahan agar segera minggat dari bumi Pertiwi. Tetapi sekarang…..???
Masih perlukah kelompok organisasi kesukuan, sejauh manakah itu dibutuhkan, dan dalam rangka untuk melawan apakah?! Bukankah kita sudah lebur menyatu dalam sumpah pemuda: bernegara, berbangsa, berbahasa satu: Indonesia.
Sebagai negara Pancasila kita patut bangga dengan aneka ragam suku, bahasa & budaya. Jika kelompok/organisasi tersebut untuk melesatarikan budaya bangsa maka patut diacungkan jempol. Tetapi jika sekedar untuk kerusuhan?!
Mari kita bangun negeri yang masih harus terus-menerus memerangi korupsi.
Salam Indonesia!
Tags: Masyarakat & Situasinya
Posted in Masyarakat. Kondisi sosial.
Udara rasanya sudah pengab oleh bermacam situasi dan kondisi yang selalu saja bolak-balik tidak karuan. Suhu politik nyaris tidak pasti. Dimana-mana orang mengatas-namakan demokrasi berbuat anarkhi. Jujur saja: apakah bangsa ini masih berbudaya Pancasila?
Bidang pajak sekarang ini ditelanjangi, betapa tidak, baru sekarang rakyat tahu bahwa selama ini uangnya masuk tidak untuk negara semuanya tetapi ‘disunat’ oknum yang tidak berjiwa nasionalis. Pengkhianat bangsa adalah mereka yang sampai hati menelan uang rakyat tanpa mau melihat kenyataan sekitarnya bahwa sekarang ini rakyat sedang menahan pedih.
Kita tidak tahu akan dibawa kemana bangsa ini oleh ‘mereka’ yang kebetulan menduduki posisi di kursi ‘empuk’ tetapi tidak memiliki hati nurani. Saya tidak mampu menulis panjang lebar lagi. Semuanya sudah mentog.
Tawuran, kerusuhan, korupsi, ketidakpercayaan, anarkhi, saling membenarkan diri sendiri, saling tuding. Apakah belum sempurna benar penderitaan bangsa ini….?
Pancasila - UUD ‘45 idealnya ditegakkan kembali.
Tags: Masyarakat & Situasinya
Posted in Masyarakat. Kondisi sosial.
Ada yang tiada
Ada yang ada
Ada yang tiada namun diada-adakan
Ada yang ada namun ditiadakan
Ada yang antara ada dan tiada namun slalu mengada-ada
Bisakah kita semua dengan rendah hati mengakuinya
Bahwa kebenaran memang harus dikibarkan
Dan ketidak-benaran sebaiknya diturunkan
Agar kemakmuran tidak hanya sekedar panji-panji kosong belaka
Dan kesejahteraan memang dapat kita rasakan bersama …
Tangis Pertiwi masih terus terdengar hingga sekarang ini. Rintihnya yang memilukan menyibakkan tirai hati kita. Tangisnya yang menyesakkan dada menggetarkan bingkai jiwa kita. Itu jika kita semua sadar dan peka. Jika kita semua ‘merasa’ bertanggung-jawab pada negeri tercinta ini. Namun ‘merasa’ saja belumlah cukup sebab masih harus dibarengi tindakan nyata.
Harga-harga agaknya sulit dikontrol lagi. Beras naik, kertas naik, biaya produksi naik (jika ingin bersaing dg luar-negeri) semua naik bak roket menuju angkasa raya. Para menteri pun naik (mobil mewah mutakhir). Dan biasanya akan disusul dengan yang lainnya. Rakyat pun akan naik (pitam)?
Inikah potret buram negeri ini..? Di Senayan pun pada naik (anggota parlemen bersidang) gairah kerjanya (uang sidang) mencecar berbagai pertanyaan pada ‘beliau-beliau’ yang dianggap paling bertanggungjawab terhadap suatu kasus (Bank Century). Diluar Jakarta pun pada naik ‘atmosfirnya’ dengan ekspresinya masing-masing (perang antar suku/kampung/daerah) juga demo yang intinya kupas-tuntas korupsi/penggelapan uang negara hingga bentrokan massal.
Tiada Maaf Bagimu barangkali kalimat ini yang tepat digunakan bagi mereka yang menyukai keributan/bentrokan/kerusuhan/peperangan dengan mengatas-namakan demi rakyat. Negara ini jadi jauh dari falsafah tunggalnya: PANCASILA, yang mengutamakan gotong-royong/kebersatuan/keadilan/perikemanusiaan/musyawarah untuk mufakat.
Akankah nilai-nilai Pancasila bergeser sedikit demi sedikit, nilai-niai luhur yang membuat bangsa ini dikenal & disegani ke seantero penjuru dunia? Akankah kita menjadi bangsa tak beradab karena mengutamakan senjata dan peluru untuk menyelesaikan suatu masalah? Apakah bangsa ini kurang daya intelektualnya sehingga perdebatan tidak dibarengi oleh ‘tepo-seliro’ dan saling menghargai satu dengan yang lain. Perdebatan memang diperlukan untuk mencarikan jalan keluar (solusi) sampai keakar-akarnya.
Tangis Pertiwi memang terdengar lirih namun sangat menyayat dan memilukan.
Mobil mewah para menteri memang boleh-oleh saja tapi harus dibarengi langkah konkriet demi kesejahteraan rakyat yang sudah membelikan mobil mewah itu. Perdebatan di Senayan boleh-boleh saja asalkan kemudian ada solusi yang konkriet bagi rakyat yang sekarang ini hanya menonton lewat layar kaca (bak nonton sinetron asli Indonesia).
Hidup memang tidak cukup hanya uncang-uncang kaki, hanya dipadati demo yang heroik, sementara dibagian Indonesia paling jauh (perbatasan) rawan dengan konflik. Masalah bangsa ini masih sangat majemuk, kompleks dan butuh keseriusan dalam menanganinya (tidak cukup hanya perdebatan).

Ledakan Ini Jangan Sampai dialami Bangsa ini
Marilah kita sama-sama selesaikan masalah bangsa ini dengan jalan berkarya secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis serta saling menghargai & menghormati satu sama lain. Tidak ada yang lebih indah selain kedamaian & kerukunan. Perbedaan justru dapat dijadikan sebagai saling memperkaya pengetahuan kita. Justru dalam perbedaan kita dapat mengambil hikmah sebanyak-banyaknya. Perbedaan itulah yang menyatukan karena perbedaan adalah Bhineka Tunggal Ika.
Mari kita kembali pada Pancasila & UUD ‘45.
Tags: Human Interest
Posted in Masyarakat. Kondisi sosial.
Hari ini, Rabu 30 Desember 2009, pk.18.45 seorang tokoh nasionalis sejati telah kembali kerumah-Nya yang abadi. Guru bangsa telah dipanggil-Nya. Sejatinya seorang manusia yang penuh kesahajaan, sederhana, lugu dan lugas. Apa yang keluar dari mulutnya adalah kesejatian bangsa. Identitas diri bangsa ini terdapat pada dirinya. Memang demikianlah seharusnya bangsa ini. Rendah hati, teguh, jauh dari munafik, membela yang kecil dan tersingkir, mengakui keberadaan orang lain dan menghormatinya. Sosok Pancasilais sejati.
Gus Dur telah tiada, tetapi aroma pengaruhnya masih dimana-mana, beliau masih hidup diantara yang hidup. Beliau hanya berpindah alam. Jiwanya masih memberi semangat. Nuraninya masih bicara. Agar bangsa ini tumbuh kembang dalam kesahajaan, dalam persatuan dan kesatuan yang hakiki (bukan manipulasi), bangsa yang membenci korupsi, bangsa yang harus hidup bersanding dan berdampingan apapun suku - adat istiadat - budaya - agama dan kepercayaannya.
Seorang proklamator kemanusiaan, kedamaian & perdamaian, persamaan hak dan kwajiban. Tidaklah mudah mencarikan pengganti sosoknya di republik ini. Terlebih pada saat situasi negeri tengah carut marut oleh dekadensi moral dan etika. Sosoknya sebetulnya masih sangat dibutuhkan di negeri tercinta ini. Tetapi bila Tuhan berkehendak lain wallahualam kita harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Pastinya Tuhan mempunyai rencana dan kehendak lain pada bangsa ini agar dapat mengambil hikmah atas apa yang telah dan pernah beliau lakukan sepanjang hayatnya.
Gus Dur, adalah raja bagi negeri ini, yang berani mengatakan ‘tidak’ ditengah arus yang berkecamuk, berani mengatakan ‘ya’ ditengah gelombang yang menghantamnya penuh ancaman. Raja yang welas-asih, mampu mengabulkan permintaan hambanya, siap mengorbankan dirinya bagi orang lain/bangsanya tanpa meminta imbalan apapun. Raja sederhana dan bersahaja. Raja yang menyediakan istana bagi rakyatnya. Raja yang menaklukkan lawannya bukan dengan senjata tetapi dengan cinta dan kasih-sayang, dengan perhatian dan pengertian lengkap dengan keutuhan pribadinya yang agung. Raja yang selalu mengajaknya rakyatnya untuk bersikap rasional.
Tahta bagi rakyat ada pada diri Gus Dur.
Dan sekarang ramai diperbincangkan soal gelar pahlawan bagi sosok Gus Dur yang nota bene kiprahnya telah dirasakan bersama seluruh rakyat dari semua golongan di bumi Nusantara ini. Barangkali Gus Dur sendiri di alam-sana sama sekali tidak menghendaki ‘gelar’ itu karena bagi beliau yang utama adalah tindakan bukan obrolan warung kopi. Apalah artinya ‘gelar’ bila tidak terbukti. Apakah hanya untuk gagah-gagahan saja. Tidak. Gus Dur tidak menghendaki hal semacam itu. Diberikan atau tidak ‘gelar’ itu bukan masalah yang terpenting adalah sudah mencoba melakukan yang terbaik bagi bangsa ini, untuk negeri tercinta ini, untuk kebersamaan dan kesatuan NKRI.
Wajah & jiwa Indonesia sesungguhnya ada pada diri Gus Dur.
Mereka yang ingin meng-Indonesia hendaknya seturut dengan apa yang pernah beliau lakukan bagi negeri ini. Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika. Gus Dur adalah Bhineka Tunggal Ika. Sosok pemimpin tanpa pamrih, sosok yang tidak takut miskin hanya karena idealismenya. Teguh, tekun, kokoh dan kuat. Seandainya saja para petinggi kita (Indonesia) mampu bersikap dan bertingkah-laku serta berpikiran seperti beliau maka rakyat akan hidup rukun, makmur dan sejahtera. Wawasannya menjangkau jauh kedepan bahkan tak bisa terdeteksi oleh siapapun.
Bangsa ini kehilangan bapanya, gurunya, panutannya. Namun jangan sampai kehilangan identitasnya. Sebab identitas bangsa ini sesungguhnya ada pada diri beliau. Lihatlah Gus Dur bila ingin melihat Indonesia dan lihatlah Indonesia jika ingin melihat siapa Gus Dur. Beliau paling menderita ketika anak bangsa saling berbenturan, beliau berduka manakala dissintegrasi menggejala, beliau menunduk berdoa saat dirinya dikhianati…
Kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan dan esok adalah impian. Bangkitlah bangsaku kendati Gus Dur telah tiada. Bangkitlah bersama cita-citanya, aspirasinya, cinta dan kasihnya terhadap bangsa ini.
Beliau telah pergi ketika bangsa ini justru sedang membutuhkannya.
Tags: Human Interes
Posted in Kehidupan. Perjuangan.
Ramai diperdebatkan, heboh diperbincangkan, tentang telusur akibat dari Bang Syenturi yang justru sedang diinvestigasi oleh Tim Pansus. Entah akibat apa dan dari mana asal muasalnya belum lagi ada hasil justru masalah melebar dan merayap kepada masalah mobil dinas menteri. Pokok persoalan awalnya apa, bagaimana bisa dicarikan penyelesaiannya, jangan malah menjadi semacam tontonan INFOTAINMENT yang sering mengejar sensasional berita dimana rakyat mulai bosan/jenuh/sebal.
Gurita yang meng-Gurita.
Kaki dan tangannya merambah kemana-mana, menggapai-gapai, mencari-cari kesalahan dan kelemahan, mencoba mengail di air keruh dalam pembenaran. Lalu apa yang bisa diharapkan dari bangsa ini bila kata DEMOKRASI mengalami dekadensi moral & etika. Sebagai putera bangsa apakah tidak lebih baik jika bersama-sama kita perbaiki kekeliruan yang ada bukan justru mempertajam kesalahan & kelemahan orang lain yang juga sama hakikatnya dengan kita sebagai MANUSIA yang seharusnya memanusia.
Tidak ada manusia yang super di dunia ini. Manusia super (superhero) hanya ada pada tokoh-tokoh ciptaan Amerika (Badman, Superman, Spiderman, dll) untuk hiburan anak-anak. Dan kita bukanlah anak-anak lagi. Kedewasaan berpikir dan bertindak sangat dibutuhkan bangsa ini jika ingin mengejar ketertinggalan (dari bangsa lainya) dan ingin tetap bisa survive.
Bangsa yang bermasalah, bukan. Tetapi justru bangsa yang dipermasalahan. Karena apapun selalu jadi sorotan, dipermasalahkan, mobil mewah para menteri misalnya. Biarkan saja mereka bermobil mewah sejauh hasil kerjanya memang bisa dirasakan rakyat. Biarkan satu masalah diselesaikan dahulu baru kemudian menyusul masalah lain, jangan masalah yang ada dibuat sedemikian rupa sehingga meng-Gurita kemana-mana. Apakah memang sengaja dilakukan agar carut-marut dan kusut. Mengurai benang kusut pastilah harus satu-persatu dan tidak mungkin sekaligus harus BISA!
Jangan sampai tangan-tangan asing ikut campur dan asyik menggulirkan masalah demi masalah. Kita harus waspada betul bahwa bangsa ini membutuhkan orang-orang bijak dalam menyelesaikan carut-marutnya masalah. Pemerintahan yang syah memang harus kita dukung perduli siapapun Presidennya. Biarkan program kerja 100 hari dinyatakan secara riel dan jangan diganggu dengan menggelontorkan aneka masalah yang justru bisa menggurita. Apakah ada jaminan jika seorang Presiden diganti maka keadaan akan jauh lebih baik (lebih parah mungkin), situasi dan kondisi semakin kondusif?
Marilah kita semua mawas diri (eling lan waspodo).
Tags: puisi kemanusiaan, Sosial kemasyarakatan
Posted in Masyarakat. Kondisi sosial.
Search
Featured Video
Komentar Terakhir
-
mazznoer:
Tegakkan keadilan di Indonesia seadil-adilnya... -
bingung:
nice post... salam kenal ya :) s... -
Meutia Rahmah:
Perbaiki ibadah yang belum mantap. Dijamin ha... -
Meutia Rahmah:
Iya nih. Aku kadang benci sama negri sendiri.... -
rhadyan:
maaf lahir batin juga bro..untung nurdin mt d...
Hot Topics
- TERORISM, SAPA TAKUT!
27 comments received - " DUARIBUDUABELAS "
6 comments received - POTRET SEORANG PEJUANG
6 comments received - YANG MERDEKA - YANG BERDAULAT
5 comments received - ALAM MAYA
4 comments received
Tags
- Add new tag Human Interes Human Interest Kemiskinan. Resesi Global. latihan Masyarakat & Situasinya melatih diri Misteri. Pelatihan diri Pertahanan. Kemananan. Aman. Nyaman. Pertahanan Negeri Petualangan Petualangan. Alam. Pribadi. Kepribadian. Berkembang. Perkembangan Puisi puisi kemanusiaan Sekolah Gratis Sikap hidup Sosial kemasyarakatan
Kategori
- remaja (2)
- kaum muda (15)
- orangtua) (1)
- ketrampilan (2)
- Masyarakat. Kondisi sosial. (29)
- Kehidupan. Perjuangan. (35)
- Cinta. Asmara. Cita-cita. (4)
- Umum (anak (3)
Arsip
- Maret 2011 (2)
- Februari 2011 (1)
- Agustus 2010 (3)
- April 2010 (1)
- Januari 2010 (2)
- Desember 2009 (8)
- Nopember 2009 (8)
- September 2009 (5)
- Agustus 2009 (11)
- Juli 2009 (18)
- Juni 2009 (10)
- Mei 2009 (17)
0
Comments